Category: Artikel

Untuk Wanita (dan Pria) yang Memuja Kecantikan dan Amerika

By iBNuX, 2 May 2010 12:49

Saya bertemu dengan seorang wanita yang telah merubah pandangan saya tentang diri sendiri dan wanita lainnya. Dia seorang wanita Lebanon, lahir dan dibesarkan sebagai muslimah. Saya melihat dalam dirinya sesuatu yang telah saya lihat pada wanita lain: kepercayaan diri. Inilah kisahnya, wanita pemberani di usia dua puluhan. Dia tidak terlalu memperhatikan [penampilan], tapi ketika saya berbicara dengannya, saya bisa merasakan kehangatan, ketulusan, dan kecerdasannya. Dia seorang doktor bidang psikologi, profesor di universitas dan segera menjadi ibu.

Bagaimana dia mempengaruhi saya? Begini. Ketika berbicara, kami memilih topik tentang memilih suami yang baik. Dia mengatakan telah menanti lama untuk menikah karena masih menunggu pria yang sempurna, pria muslim yang taat. Ia mengatakan, “Saya punya banyak hal yang ditawarkan kepada lelaki. Saya seorang wanita muslimah yang taat, berpendidikan, cerdas, dan terhormat.” Hal ini mengagetkan saya.

Perlu diketahui, saya dididik dengan kesombongan orang Amerika. Ketika seorang wanita mengatakan bahwa ia menawarkan banyak hal, tidak ada hal-hal di atas yang biasanya disebut. Biasanya ia berkata, “Saya tinggi dan langsing. Saya punya wajah cantik. Saya punya bentuk tubuh yang indah,” atau mungkin, “Saya punya rambut pirang dan mata biru.” Tapi baginya menyusun kualitas non-feminim seperti tadi sebagai elemen untuk menjadi seorang istri, mengejutkan saya, khususnya ketika ia begitu jelas kurang dalam beberapa bagian yang saya anggap penting.

Tapi kemudian saya memikirkan tentang hal itu. Saya sadar bahwa sikap ini merupakan fakta menyedihkan bagi kehidupan warga Amerika, dan penjelasan yang menyedihkan buat saya. Kami dibesarkan untuk menjunjung tinggi Barbie. Peran teladan kita adalah wanita cantik. Saya tidak tahu banyak nama wanita, yang secara akademis, intelektual atau bahkan fisik (dalam olahraga) unggul, tapi saya bisa sebut lusinan model, penyanyi dan aktris.

Saya berpikir tentang diri sendiri. Waktu itu saya lulus dari tingkat magister. Saya mengajar bahasa Inggris di perguruan tinggi setempat. Saya sedang menyelesaikan doktoral… Saya, selalu dianggap di atas rata-rata kecerdasan, tapi sejauh yang saya ingat, satu hal yang orang-orang selalu bilang tentang saya ke orang tua adalah kecantikan saya.

Saya juga tidak bisa membayangkan diri sendiri tanpa mempertimbangkan kecantikan diri. Citra-diri saya, seperti kebanyakan wanita Amerika, terikat oleh kecantikan. Kalau saya kehilangan hal itu, meski punya banyak hal lain, sama saja tidak punya apa-apa.

Seorang teman dekat pernah berkomentar betapa sedihnya dia sehingga membuatnya begitu lama untuk mengenakan jilbab, dan bahkan ketika ia memakainya, ia harus membuatnya cantik dengan model tambahan atau memakai makeup. Teman yang lain, seorang mualaf, baru-baru ini bilang bahwa suatu hari ia mencoba untuk memakai jilbab. Ketika balik ke dalam mobilnya, ia mulai menangis karena ia “…terlihat jelek”. Saya tahu persis bagaimana perasaan mereka.

Saya sendiri menunda masuk Islam karena, seperti yang teman saya banyak bilang, tidak ingin terlihat berjalan dengan “seprai”. Apa yang salah dengan kita kalau melihat diri sendiri hanya berdasarkan gambar yang terpantul dalam cermin? Allah telah memberi kita begitu banyak hal. Allah telah menciptakan kita sebagai pasangan bagi suami kita, putri bagi orang tua kita, ibu bagi anak-anak kita dan saudari bagi yang lainnya; tapi kita membiarkan mentalitas Barat meracuni pandangan kita. Don’t get me wrong. Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi cantik. Ini adalah hal yang alami. Masalahnya terletak pada membuat citra-diri kita bergantung pada fakta: meniru Barat.

Wanita yang dibayar mahal adalah mereka yang bermain dengan fantasi lelaki baik sebagai aktris, model atau bahkan penari eksotis. Masyarakat dibangun tentang [bagaimana] memuaskan laki-laki; yang diperlukan adalah melihat televisi satu jam saja untuk mencari hal semacam ini. Apakah semua konsumen laki-laki? Tidak. Lalu kenapa iklan mereka sarat dengan keindahan, atau praktis wanita telanjang dan berton-ton pencitraan seksual? Itu karena para lelaki akan membelikan wanita mereka agar terlihat seperti itu dan para wanita akan membeli untuk menyenangkan beberapa lelaki yang ingin melihat mereka seperti itu.

Saya tidak menyalahkan semua wanita karena terjebak dengan “cara kesenangan” ini. Saya juga menyalahkan laki-laki (di antara mereka banyak muslim yang membantu melestarikan mitos beracun ini). Sangat memalukan ketika seorang wanita harus begitu khawatir tentang image mereka padahal ia mendurhakai Allah karena tidak mempunyai rasa percayai diri untuk menjadi kurang cantik. Jilbab adalah elemen penting bagi perlindungan masyarakat. Ia menjaga wanita dari godaan laki-laki dan menjaga dirinya dari godaan diri sendiri.

Jilbab Sebagai Perlindungan

Bagaimana bisa? Karena perhatian lelaki tampan dan tubuh ideal akan menggoda wanita. Kami menikmati perhatian itu, dan hal ini bisa menggiring lebih dari sekedar “teman” ngobrol atau godaan “biasa”. Selain itu, jilbab membuat masyarakat menilai wanita atas dasar selain kecantikannya. Jilbab juga sebuah perlindungan. Hal ini membuat wanita [dapat] mengembangkan bakat lainnya. Jilbab membuat kealamian dan kesopanan wanita meningkat. Jilbab membuat orang lain menghormatinya karena jilbab sendiri menunjukkan bahwa ia menghargai dirinya sendiri.

Kita perlu pahami lebih jelas. Terlalu sering kita mendengar seorang wanita mengatakan, “Saya berpakaian seperti ini hanya untuk menyenangkan diri sendiri.” Benarkah? Nah, berapa banyak dari kalian memakai gaun seksi-ketat, hak tinggi, dan berdandan lengkap ketika bersantai di rumah? Kalau memang benar buat kalian, bukan untuk menarik perhatian laki-laki, lalu kenapa kalian buang semua itu ketika tidak ada laki-laki yang melihat? Kenapa tidak coba mempercantik untuk diri sendiri ketika hanya kita yang ada? Alasannya adalah karena hal itu bukan untuk kita (semata)… Hal itu untuk kepercayaan diri kita. Kita perlu penyemangat hari ini dan nanti, sehingga berpakaian seksi dan kepala yang berpaling membuat kita merasa nyaman; mengingatkan kita bahwa kita masih cantik.

Di situlah letak permasalahannya. Kenapa kita merasa perlu memiliki penyemangat seperti itu untuk merasa lebih baik? Kenapa kita harus mendapatkan rasa percaya diri [hanya] dari penampilan kita? Apa yang salah dengan diri kita? Lihatlah laki-laki. Kalian bisa lihat yang pendek, gemuk, botak, jelek jalan bersama wanita cantik dan tinggi. Kenapa? Karena dia punya rasa percaya diri dalam dirinya sendiri. Dia tahu dia memiliki aset yang menarik perhatian orang lain. Dia kaya, atau pintar atau bahkan cerdas, atau mungkin pandai bernyanyi (ingat pernikahan pertama Julia Roberts?)

Kita harus mengenali aset sebagai wanita. Aset terbesar yang kita miliki bukanlah kecantikan. Tapi kebaikan kita. Pikirkan tentang hal ini. Laki-laki terlihat senang bermain dan bersama dengan perempuan nakal, tapi dia mencari wanita yang baik untuk menjaga dan membesarkan keluarga. Laki-laki mengenali apa yang baik bagi kita; tapi Barat membuat kita lupa. Kita benar-benar memiliki semua kekuatan. Ketika wanita Yunani ingin para lelaki berhenti perang selamanya, mereka membuat perjanjian untuk tidak memberi kenikmatan seksual bagi laki-laki. Para lelaki menerima pesan itu dan perang pun berhenti. Para wanita di dunia selalu menggunakan kekuatan mereka untuk membuat lelaki tidak memiliki apa yang mereka ingini. Wanita telah menjaga martabat mereka dan lelaki menyadari dan menghormati hal ini. Sekarang, kita tidak lagi menghormati diri kita sendiri.

Kita membuat diri kita tersedia untuk segala macam pesta. Wanita Amerika bekerja lebih keras dari siapapun. Dia membesarkan anak-anaknya tanpa seorang ayah. Dia disia-siakan sama seperti anak-anaknya. Sering kali, dia pergi ke medikal sains untuk mencari pria dan memintanya mengakui bahwa itu adalah anaknya. Seberapa jauh kita terperosok? Kalian pikir kita punya kebebasan? Kita lebih terpenjara dari sebelumnya. Kita adalah tawanan dari keinginan pria. Pria memukul, meninggalkan, menggunakan, dan membuang kita. Kenapa? Karena akan selalu ada wanita yang lebih mudah tertipu di sudut jalan. Tapi kita mencari segala macam cara ekstrim untuk menarik perhatian lelaki.

Belum lama ini saya berkendara pada hari Minggu. Saya melihat wanita sedang pergi ke gereja, dan saya bersumpah melihat mereka seperti berpakaian ke night club, bukan gereja. Di sudut jalan lain, saya melihat saudari muslim kita mengenakan hijab yang menunjukkan lebih dari yang mereka sembunyikan. Saya juga melihat gadis remaja bermain dengan boneka barbie cantik dan berdebat tentang siapa yang lebih mirip Barbie. Ya Allah! When will we wake up?

Kita harus melindungi saudari-saudari kita. Kita harus tunjukkan keunggulan kita. Kita umat muslim. Itu yang membuat kita jadi yang terbaik di antara bangsa lain. Kita adalah teladan bagi dunia, lalu kenapa kita yang jadi pengikut? Kita adalah tanaman terbaik, tapi kenapa kita berkubang dalam lumpur? Saudariku, saya meminta kalian untuk memeriksa Amerika dalam hal ini. Amerika memiliki tingkat tertinggi kejahatan terhadap perempuan. Mereka mengatakan wanita dihormati? Dihargai? Memiliki kebebasan?

Nasib Wanita di Amerika

Baik, beberapa tahun yang lalu saya membaca di koran tentang seorang pria yang memukul pacarnya dan membawanya ke rumah sakit. Pada saat yang sama, ia menyiksa dan membunuh kelinci piaraan wanita itu. Pria ini mendapat hukuman 6 bulan dan denda 6.000 dolar. Untuk kasus kelinci, ia mendapat hukuman 6 tahun dan denda 60.000 dolar. Kehormatan, penghargaan, kebebasan? Bagi saya, kehormatan, penghargaan dan kebebasan milik kelinci, bukan perempuan. Subhanallah, kelinci lebih sering makan siang? Makan siang kita lebih memiliki hak daripada kita?

Sampai terakhir ini, tidak ada hukum di Amerika yang melindungi seorang wanita dari pengintaian, dan tidak ilegal bagi seorang pria untuk memukul istrinya. Namun di beberapa negara bagian, jika wanita takut tuntutan, mereka tidak akan melakukan apa-apa. Akankah Anda menuntut [ke pengadilan] jika tahu bahwa dia akan memukul Anda lagi nantinya? Jika Anda memaksa menuntutnya, pukulan berikutnya bisa fatal. Tapi mereka berani membicarakan muslim—Amerika, bersihkan halaman kalian dulu! Ketika kita menunjukkan rasa menghargai diri sendiri, kita akan mendapatkan penghargaan yang pantas, tidak perlu menunggu. Kita harus menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa kita wanita dengan harga diri, bahwa kita wanita muslim. Jika demikian, mereka akan menjawab, meskipun kebudayaan dan praktiknya bukan milik mereka.

Berhijab, Menghargai Diri Sendiri

Saya sedang bekerja suatu hari, ketika seorang pria memperkenalkan dirinya. Dia mengulurkan tangannya pada saya. Dengan sopan saya katakan, “Maaf, tapi agama saya melarang saya untuk berjabat tangan dengan pria.” Jawaban dia ke saya, “Ibu saya bilang bahwa suatu hari nanti saya akan berjabat tangan dengan seorang wanita, dan dia akan menolak. Akhirnya saya bertemu wanita itu.”

Di waktu lain, saya sedang berada di pasar, dan pria Amerika tua manis mendatangi saya. Dia menyentakkan bagian belakang kepala saya, dan ketika saya berbalik, dia mengatakan, “Semoga Tuhan memberkati kamu untuk hal ini. Sangat cantik melihat seorang wanita yang menghargai dirinya sendiri.”

Hal penting di sini adalah kita akan dilihat sebagai diri kita sendiri saat ini. Kenapa beberapa pria Amerika harus kaget ketika mendengar bahwa seorang wanita harus menutup dirinya? Hal ini karena berarti mereka tidak bisa menunjukkan citra-diri mereka dengan memamerkan wanita layaknya piala. Kenapa banyak wanita yang menentang gagasan hijab? Hal ini karena mereka akan kehilangan rasa percaya diri yang dimiliki karena menganggap kecantikan adalah kunci citra-diri. Tidak ada kecantikan, tidak ada rasa percaya diri. Tidak ada kecantikan, tidak ada nilai. Akan ada di mana Cindy Crawford atau Sharon Stone jika mereka harus bersandar selain penampilan mereka? Jangan biarkan diri kita jatuh pada perangkap yang mereka siapkan!

Setelah semua ini, izinkan saya untuk mengatakan alasan sebenar saya menulis ini. Tumbuh dewasa sebagai non-muslim di Barat, saya memiliki perhatian lebih terhadap agama Islam sebelum saya pindah agama. Hal terberat bagi saya adalah menyerahkan apa yang saya anggap sebagai “kebebasan”. Tapi akhirnya saya sadar bahwa hanya dengan menaati peraturan Allah, saya mampu mengenali bahwa “kebebasan” ini hanyalah sebuah permainan—obat yang digunakan untuk membuat kita tidur.

Kenapa Pakai Jilbab?

Biarkan saya jelaskan sedikit. Beberapa orang mempertanyakan kenapa perempuan harus menutup [dengan jilbab] atau kenapa wanita [muslimah] tidak bisa menikah dengan lelaki nonmuslim. Pertama, adalah sebuah fakta kehidupan bahwa kita tidak berada di surga. (Sepertinya kita belum sadari hal ini). Tapi fakta yang menyedihkan adalah kita berharap segalanya sempurna. Kita berharap lelaki dan perempuan berbuat layaknya malaikat dan kita akan marah atau frustrasi karena mereka sebenarnya tidak. Hal pertama yang setiap muslim harus sadari adalah bahwa ada sebuah kekuatan mutlak (Allah) yang menjalankan alam semesta. Kita mungkin tidak setuju dengan keputusan yang Dia buat atau rencana yang Dia ciptakan, tapi kalau kita menyadari bahwa Dia lebih unggul, kita harus tahu bahwa pilihan-Nya didasari atas sebab atau faktor yang tidak kita sadari, dan Kekuatan-Nya menjadikan pilihan-Nya benar dan pilihan kita salah, karena kealpaan kita.

Saya akan berikan contoh kecil. Saya bukan dokter medis. Tapi ketika saya merasa sakit, saya pergi ke seorang [dokter]. Dia mengatakan—Anda sakit kanker. Dia menentukan perawatan radiasi. Dia memberikan penjelasan mendasar atas apa yang terjadi, dan bagaimana radiasi bekerja untuk membunuhnya, tapi pada akhirnya, saya tidak punya pilihan kecuali percaya bahwa ia lebih tahu daripada saya tentang hal ini, dan saya membiarkan dia melakukan apa yang dibutuhkan untuk menghilangkan kanker; atau saya mengambil risiko atas dasar pemahaman saya yang tidak sempurna—sebuah perbuatan yang telah membunuh begitu banyak pasien kanker.

Ketika hal ini berhubungan dengan Allah, saya tidak bisa menjelaskan kenapa laki-laki diciptakan menjadi makhluk yang [mudah] dipicu oleh rangsangan visual seksual. Saya pun tidak bisa menjelaskan kenapa perempuan kurang rentan terhadap fenomena ini. Saya juga tidak bisa menjelaskan mengapa perempuan cenderung mengikuti lelaki yang ia cintai, meski di era kebebasan seperti ini (tahukah Anda sebagian besar kejahatan dilakukan oleh wanita, entah bagaimana, berhubungan dengan menghibur laki-laki yang mereka cintai). Kita mungkin tidak suka dengan realitas ini—tapi kita tidak bisa menyangkal keberadaannya dan tidak bisa menyembunyikan kepala kita di pasir seperti burung unta dan mengatakan bahwa hal itu tidak ada, mereka (yang tidak mau atau tidak bisa mengontrol dirinya) harus memperbaiki apa yang salah dalam diri mereka atau hal itu bukan tanggung jawab kita [perempuan] untuk melindungi setiap lelaki dari dirinya sendiri. Kenyataan yang menyedihkan adalah kita harus melindungi diri kita sendiri karena tidak ada orang yang akan melindungi kita.

Wanita muslim menutupi [dengan jilbab] sebagai cara untuk dikenali dan sebagai perlindungan—Allah menyebutkan hal ini dalam surah Al-Ahzab ayat 59). Saat ini, bagaimana menutupi diri sendiri akan melindungi kita? Tentu saja karena akan meningkatkan rasa hormat yang kita berikan pada laki-laki. Sebagai seorang nonmuslim, saya berurusan dengan isu-isu pelecehan seksual dan perilaku tidak sopan. Ketika saya memakai jilbab, tidak ada yang berubah pada saya kecuali fakta bahwa sekarang tertutup [dengan jilbab]. Untuk beberapa alasan, lelaki memperlakukan berbeda. Mereka melihat tanda “dilarang melintasi” begitu jelas. Tidak ada ambiguitas. Kalian tahu, ketika seorang wanita mengenakan pakaian bercirikan Barat, laki-laki menjadi ragu—apakah dia bersedia? Apakah dia “suka bermain”? Apakah dia wanita yang dihormati? Mereka tidak tahu. Tidak ada yang memperingatkan laki-laki dengan jelas, tapi hijab menyatakan dengan keras dan jelas, “Inilah wanita yang terhormat yang tidak suka bermain.” Jadi, memakai jilbab sebenarnya membantu saya untuk kemajuan dalam karir sebagai seorang profesor perguruan tinggi tanpa masalah seperti ini. Saya bahkan menjadi wakil untuk penelitian di konvensi nasional. Jilbab saya mengizinkan mereka untuk melihat keunggulan intelektual saya karena mereka tidak diberi akses untuk keunggulan fisik saya. Sebagai seorang nonmuslim, begitu banyak hari berlalu dengan tangisan ketika saya pulang ke rumah karena semua komentar “nakal” dan sindiran kotor.

Pada awalnya seperti tidak adil kalau saya harus melakukan cara ekstrim seperti ini untuk melindungi diri sendiri, tapi saya tidak melihat cara lain lagi, tidak melihat cara ini sebagai cara ekstrim untuk menghindari jalan di sebuah lorong gelap di kota New York jam dua pagi—melambai-lambaikan uang tunai seribu dolar. Saya akui bahwa saya menanggung sejumlah tanggung jawab untuk menjadi bijak dan melindungi diri sendiri. Kalau saya tidak peduli dengan diri sendiri, siapa lagi? Saya harus hati-hati dan bijak. Saya tidak bisa menganggap semua lelaki di luar sana memiliki pengendalian diri yang sempurna. Demi Tuhan, saya tidak punya, lalu kenapa saya harus berharap dari orang lain?

Kenapa Menikahi Sesama Muslim?

Masalah lain yang mengganggu kami adalah kita hanya dibolehkan menikah dengan pria muslim. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, lebih alami bagi seorang wanita untuk mengikuti pria daripada pria mengikuti seorang wanita. Suka atau tidak, inilah realitanya. Allah bisa saja membuatnya berbeda, tapi pada suatu saat nanti kita mengerti bahwa pasti ada alasan untuk hal ini. Mungkin untuk menjaga harmoni di keluarga, seseorang harus tunduk secara natural daripada yang lainnya—yang lebih kuat—secara umum ialah laki-laki—kenapa? Saya tidak tahu; yang satu harus begitu—kenapa bukan pria?

Bahkan filosof feminis paling intelek menyadari bahwa pria dan wanita berpikir, bertindak dan bahkan berkomunikasi dengan cara yang berbeda. Sekali lagi—inilah kenyataannya. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita melindungi diri sendiri—(bertahan, itu tujuan akhirnya, kan? Kita ingin bertahan di dunia ini dan bahkan melebihinya, jika bisa, agar kita bisa pindah ke hal yang lebih besar, segalanya lebih baik—bernama surga). Salah satu cara yang kita lakukan adalah dengan tidak menempatkan diri kita dalam situasi yang akan menyebabkan kita bermasalah di masa depan. Dalam hal ini, Allah telah melakukannya untuk kita. Allah ingin melindungi agama kita. Jadi karena Kearifan-Nya yang Tak Terbatas, Dia telah melarang wanita mengizinkan hatinya untuk “ditolak pikirannya”. Dia harus bersama pria muslim (jangan salah paham karena ada banyak pria muslim yang buruk—tetapi harus pintar—kita harus memilih yang terbaik—bukan sampah kita sendiri). Jika kita melakukannya, maka masalah tersebut paling tidak akan berkurang, jika tidak hilang. Inilah karunia dari Allah. Dia telah memberikan kita atas kearifan-Nya, dan melarang bagi kita apa-apa yang akan melukai kita.

Saya telah berada di lingkungan muslim kira-kira 13 tahun; cukup lama untuk melihat wantia menikahi non-muslim—sedikit dari mereka—dan saya belum melihat satu hubungan pun yang bertahan, atau bahkan seorang dari pria yang berpindah atau menerima praktik agama istrinya (meskipun saya yakin ada, tapi pengecualian tidak pernah mengubah aturan). Dalam jangka panjang, biasanya menyebabkan bencana (pada awalanya mereka gula dan bunga—tapi bulan madu berakhir dengan tragis bagi wanita). Saya harap saya dapat mengatakannya, tapi saya sedih untuk mengatakan satu-satunya yang tidak berakhir dengan perceraian adalah tetangga saya yang setiap minggunya didatangi polisi untuk membela dirinya dari pemukulan. Sedangkan di sisi lain—saya telah melihat sebagian besar wanita Kristiani dan Yahudi menikahi pria muslim berpindah atau setidaknya menerima agama dengan pikiran terbuka dan toleran.

Seperti yang saya katakan, mungkin kita tidak suka dengan kenyataan karena tidak sesuai dengan yang ingin kita lakukan, tapi inilah kehidupan dan kita harus jalani. Saya tidak suka mengunci pintu karena takut penjahat, tapi saya tidak menghindari melakukannya dengan protes. Itu akan menjadi hal bodoh dan berbahaya. Saya berusaha menjadi bijak dan berurusan dengan apa yang ada, bukan apa yang saya ingin ada. Hukum Allah adalah hukum untuk membantu kita berurusan dengan apa yang ada.

http://savikovic.multiply.com/journal/item/569/Untuk_Wanita_dan_Pria_yang_Memuja_Kecantikan_dan_Amerika

Kartini Bukan “Pejuang Emansipasi”

By iBNuX, 23 April 2010 00:51
Syabab.Com – Tangal 21 April bagi wanita Indonesia, adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi sayangnya, peringatan tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang diperjuangkan Kartini (misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau bersanggul, lomba masak dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi perempuan). Suara emansipasi pun terasa lebih kuat pada bulan April karena Kartini dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita.

Terlepas dari keterlibatan RA. Kartini sebagai pejuang dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia, emansipasi sebenarnya diilhami dari gerakan feminisme di barat. Pada abad ke-19, muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women’s Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita).

Gerakan yang berpusat di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak serta menghendaki adanya kemandirian dan kebebasan bagi perempuan. Pada tahun 1960, isu feminisme berkembang di AS. Tujuannya adalah menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik (rumah tangga) merupakan hal yang tidak produktif. Kemunculan isu ini karena diilhami oleh buku karya Betty Freidan berjudul The Feminine Mystiquue (1963). Freidan mengatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya. Ide virus peradaban ini kemudian terus menginfeksi tubuh masyarakat dan ‘getol’ diperjuangkan oleh orang-orang feminis.

Gencarnya kampanye feminisme tidak hanya berpengaruh bagi masyarakat AS pada saat itu, tetapi juga di seluruh dunia. Munculnya tokoh-tokoh feminisme di negeri-negeri Islam seperti Fatima Mernissi (Maroko), Nafis Sadik (Pakistan), Taslima Nasreen (Bangladesh), Amina Wadud (Malaysia), Mazharul Haq Khan serta beberapa tokoh dari Indonesia seperti Wardah Hafidz dan Myra Diarsi kemudian beberapa gerakan perempuan penganjur feminisme, seperti Yayasan Kalyanamitra, Forum Indonesia untuk Perempuan dan Islam (FIPI), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Yayasan Solidaritas Perempuan dan sebagainya, setidaknya menjadi bukti bahwa gerakan inipun cukup laku di dunia Islam. Bahkan tak hanya dari kalangan wanita, dari kalangan pria juga mendukung gerakan ini seperti Asghar Ali Engineer, Didin Syafruddin, dan lain-lain.

Dalam perjuangannya, orang-orang feminis seringkali menuduh Islam sebagai penghambat tercapainya kesetaraan dan kemajuan kaum perempuan. Hal ini dilakukan baik secara terang-terangan maupun ‘malu-malu’. Tuduhan-tuduhan ‘miring’ yang sering dilontarkan antara lain bahwa hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan rumah tangga, seperti ketaatan istri terhadap suami, poligami juga dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan menimbulkan potensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sementara itu peran domestik perempuan yang menempatkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dianggap sebagai peran rendahan. Busana muslimah yang seharusnya digunakan untuk menutup aurat dengan memakai jilbab (Q.S Al-Ahzab:59) dan kerudung (Q.S An-Nur:31) dianggap mengungkung kebebasan berekspresi kaum perempuan. Lalu benarkah R.A Kartini dalam sejarahnya merupakan pahlawan emansipasi, sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis?

Andai Kartini Masih Hidup

Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, R.A Kartini saat itu menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki, tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur pada saat itu, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902, yang isinya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Menurut Kartini, ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal?. Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Dalam buku tersebut Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah sedikit mengenal Islam. Pemikiran Kartini pun berubah, yakni ingin menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Kita dapat menyimak pada komentar kartini ketika bertanya pada gurunya, Kyai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut:

Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”.

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya memuat, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Selain itu Kartini mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban, bahkan ia sangat membenci Barat. Hal ini diindikasikan dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

Selanjutnya di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pada saat Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al-Qur’an melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), “…mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS al-Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya, di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis. Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis jender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini. Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan dan kesetaraan jender.

Refleksi perjuangan Kartini saat ini sangat disayangkan karena banyak disalah artikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita. Tanpa disadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan feminisme dengan membawa ide-ide sistem kapitalisme yang pada akhirnya merendahkan, menghinakan derajat wanita itu sendiri.

Perempuan Tolak Kapitalisme, Dukung KhilafahSistem kapitalisme sejatinya telah menghancurkan kehidupan manusia, termasuk kaum hawa (perempuan). Akibat diterapkan sistem kapitalisme terjadi himpitan ekonomi sehingga tidak sedikit perempuan lebih rela meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi TKW, misalnya, meskipun nyawa taruhannya. Ribuan kasus kekerasan terhadap mereka terjadi. Mereka disiksa oleh majikan hingga pulang dalam keadaan cacat badan, bahkan di antaranya ada yang akhirnya menemui ajal di negeri orang. Sebagaimana yang dialami derita seorang TKW asal Palu, Susanti (24 tahun), yang kini tak bisa lagi berjalan karena disiksa majikannya (Liputan6.com, 9/3/2010).

Maraknya perdagangan perempuan dan anak-anak (trafficking) pun terjadi. Pada Desember 2009 ditemukan 1.300 kasus perdagangan manusia dan pengiriman tenaga kerja ilegal dari Nusa Tenggara Timur (Vivanews.com, 15/12/2009). Sekitar 10.484 wanita yang berada di Kota Tasikmalaya Jawa Barat rawan dijadikan korban trafficking. Pasalnya, mayoritas di antara mereka berstatus janda serta berasal dari kalangan yang rawan sosial dengan taraf ekonomi rendah (Seputar-indonesia.com, 1/4/2010). Di Kabupaten Cianjur Jawa Barat kasus trafficking dan KDRT tercatat 548 kasus. Tidak sedikit dari mereka menjadi korban dan dipekerjakan sebagai pekerja seks komersil (PSK) (Pikiranrakyat.com, 23/3/2010). Fakta-fakta tersebut setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa sistem kapitalisme telah gagal dalam memuliakan wanita.

Habis Gelap Terbitlah Islam

Upaya meneladani perjuangkan Kartini seharusnya bukanlah kembali pada ide-ide feminis dengan membawa ide kapitalisme yang absurd melainkan kembali pada sistem syariah Islam (ideologi Islam), yang dalam rentang masa kepemimpinannya selama 13 Abad mampu memposisikan wanita pada kedudukannya yang teramat mulia, maka wajar bila desas desus diskriminasi perempuan ketika diterapkan ideologi Islam tidak pernah terdengar.

Di muka bumi ini, baik laki-laki maupun perempuan diposisikan setara. Derajat mereka ditentukan bukan oleh jenis kelamin, tetapi oleh iman dan amal shaleh masing-masing. Sebagai pasangan hidup, laki-laki diibaratkan seperti pakaian bagi perempuan, dan begitu pula sebaliknya. Namun dalam kehidupan rumah-tangga, masing-masing mempunyai peran tersendiri dan tanggung-jawab berbeda, seperti lazimnya hubungan antar manusia.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, laki-laki dan perempuan dituntut untuk berperan dan berpartisipasi secara aktif, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar serta berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah. laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” Demikian firman Allah dalam al-Qur’an (Q.S al-Ahzab: 35).

Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan, bahwa sesungguhnya perempuan itu saudara laki-laki (an-nisâ’ syaqâ’iqu r-rijâl) (HR Abu Dâwud dan an-Nasâ’i).
Meskipun di kalangan Muslim pada kenyataannya masih selalu dijumpai diskriminasi terhadap perempuan, namun yang mesti dikoreksi adalah sistemnya, bukan agamanya. Di tanah kelahirannya sendiri, gerakan feminis dan kesetaraan gender masih belum bisa menghapuskan sama sekali berbagai bentuk pelecehan, penindasan dan kekerasan terhadap perempuan. Maka sekarang sudah saatnya baik laki-laki dan perempuan berjuang untuk mengganti sistem kapitalisme sekuler dengan sistem Islam yakni dengan menerapkan sistem syariah Islam secara kaffah dalam wadah khilafah Islamiyah sebagai wujud ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena hanya dengan sistem syariah Islam saja wanita dimuliakan. Karena itu saatnya habis gelap, terbitlah Islam dengan syariah dan khilafah. [opini/syabab.com]

*) Ketua umum Majelis Ta’lim Al-Marjan FPIK IPB 2007-2008, Tim laboratorium dakwah Syiar Kampus LDK BKIM IPB 2010)

http://muslimahrevolt.multiply.com/journal/item/121/121

EKONOMI INDONESIA YANG SALAH URUS

By iBNuX, 20 March 2010 11:56

Dear All,

Ini mengenai sebuah pemerintahan yang bisa hidup hanya karena mengemis UTANG dan memeras PAJAK.

SBY selalu mengklaim berhasil membuat perekonomian Indonesia di tahun 2004-2009 bertumbuh.

Utang Indonesia berhasil dilunasi dari IMF. Memang benar lunas dari IMF, tapi dengan cara membuat utang baru ke World Bank (CGI dan IGGI) dan melepas SUN (Surat Utang Negara) dengan kisaran bunga mencapai 10-12%. Pinjaman luar negeri (World Bank) meningkat dari Rp 613 triliun menjadi Rp 764 triliun. Sementara surat berharga Negara(SUN) meningkat dari Rp 662 triliun menjadi Rp 920 triliun. (Harian Rakyat Merdeka).

Perhatikan bunga SUN yang 10-12%!!! Sementara pinjaman ke IMF bunganya hanya 4-5% saja. SBY demi gengsi tapi tidak berpikir jernih dan ekonomis. Untuk bayar yang 4-5% saja sudah kembang kempis dan senin kemis, kok malah bikin utang dengan bunga yang dua kali lipat lebih tinggi? BODOH…!!!!

Apanya yang bertumbuh kalau disatu sisi, utang Indonesia secara nilai terus meningkat?

Berikut catatan utang pemerintah pusat sejak tahun 2000 berikut rasio utangnya terhadap PDB:

ini adalah posisi jumlah utang Indonesia dari tahun ke tahun.

Tahun 2000: Rp 1.234,28 triliun

Tahun 2001: Rp 1.273,18 triliun

Tahun 2002: Rp 1.225,15 triliun

Tahun 2003: Rp 1.232,04 triliun

Tahun 2004: Rp 1.299,50 triliun

Tahun 2005: Rp 1.313,29 triliun

Tahun 2006: Rp 1.302,16 triliun

Tahun 2007: Rp 1.389,41 triliun

Tahun 2008: Rp 1.636,74 triliun

Tahun 2009: Rp 1.589,78 triliun

Tidak ada bukti bahwa SBY mampu mengendalikan ekonomi Indonesia bukan? Apanya yang menurun? Turun bero kali yaaa?

Siapapun yang jadi Presidennya, mampu membangun Negara ini lewat utang yang besar!!!

Fakta-fakta serta temuan Badan Pemeriksa Keuangan dan Komisi Pemberantas Korupsi menyatakan bahwa sejak 1967 hingga 2005 pemerintah baru memanfaatkan utang negara sebanyak 44 persen. Sisanya tidak pernah dimanfaatkan oleh pemerintah untuk pembangunan. “Transaksi utang luar negeri selama ini justru membebani. Indonesia selama ini dipaksa terus membayar utang. (kompas.com)

Selama pemerintahan Presiden SBY, sepanjang tahun 2005-2008, peningkatan utang negara naik rata-rata Rp 80 triliun per tahun. Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang pada era Orde Baru, yakni Rp 1.500 triliun dalam jangka 32 tahun atau sekitar Rp 46,875 triliun per tahun. Sementara di era pemerintahan Megawati selama 3.5 tahun, utang cuma meningkat Rp 12 triliun, atau 4 triliun per tahun.(Soalnya Megawati sibuk menjual BUMNnya (Privatisasi BUMN) buat mengurangi utang luar negeri tersebut)(kompas.com)

Kesimpulan mengenai utang Indonesia saat ini, dua cara berbeda yang dipakai oleh dua era Presiden untuk mengurangi utang negara.

1. Menjual asset bangsa(BUMN).jaman Megawati.

2. Gali lobang, tutup lobang. Jaman SBY.

Sungguh bangga saya punya pemimpin yang kreatif mengakali utang luar negeri.

Sekarang mengenai pajak…!!!

Mengembar-gemborkan kampanye pembayaran pajak oleh rakyatnya. Dengan sedikit aroma “ANCAMAN”, bahwa yang melanggar akan bla…bla…blaa.

Mengandalkan pajak sama sekali bukanlah membuat ekonomi yang bertumbuh. Pajak yang terlampau ketat, terutama terhadap industri, akan membuat sektor tersebut melemah dan semakin tidak mampu bersaing dengan produk luar negeri yang terus menerus menggerus industri di Indonesia.

Sementara pajak tersebut terlampau banyak macam dan rupanya.

PPH21, PPN, PBB, Pajak kendaraan bermotor dsb…dsb…

Konsekuensinya, seharusnya SBY mengembalikan pajak yang diambilnya dari duit rakyat itu, untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyatnya. Dengan merangsang pertumbuhan ekonomi dari dua sektor yakni Industri dan Agriculture(Pertanian, peternakan dan perkebunan)yang sejatinya akan mengurangi jumlah tenaga kerja yang menganggur.

Kesalahan SBY adalah saat memeras pajak bergaya komunis (ketat, penuh ancaman, penekanan yang berstruktur), tapi setelah dapat uangnya bergaya kapitalis(masa bodoh sama kemiskinan,masa bodoh dengan pengangguran, masa bodoh dengan usaha kecil dan menengah, masa bodoh dengan urusan orang2 urban).

Kemiskinan hanya diakali dengan Dana ‘Suap’ BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang Rp 100.000;/bulan/kepala rumah tangga yang sama sekali tidak mendidik orang miskin agar bertahan hidup tanpa menggantungkan diri pada dana ‘kampanye’ gelap yang dikatakan oleh GJA pada Gurita Cikeas.

Seharusnya pemerintahan yang sehat, tidak hanya mengandalkan PAJAK dan HUTANG untuk membiayai Negara.

Pemerintah seharusnya bisa hidup dari pendapatan BUMN nya seperti :Telkom, PLN, PAM, KAI,Bea Ekspor-import, PELNI,PERTAMINA dsb…dsb…

Namun sampai saat ini, pemerintah telah GAGAL membuat BUMN di Indonesia menjadi kendaraan ekonomi yang bisa menghasilkan untung.

Anehnya setelah dijual ke luar negeri/ privatisasi, perusahaan Negara yang menjadi perusahaan bersama-sama itu kok bisa untung. Salah satu contohnya Indosat.

Tentang PERTAMINA, kenapa bisa rugi terus menerus, sementara perusahaan penyedot bahan tambang dari luar negeri seperti Exxon mobil, Caltex, Freeport,Newmont sepertinya tidak ada kabar beritanya. Berapa bagian pendapatan buat Negara kita dari ‘penyewa lahan’ tersebut juga tidak terlalu transparant.

Masih ingat kasus Indonesia keluar dari OPEC karena tidak sanggup lagi menjadi pengeksport minyak bumi?

Bahkan Indonesia terengah-engah memasok kebutuhan bensin dalam negerinya sendiri. Kan BODOH!!!

Kalau begitu usir saja Caltex dan Exxonmobil dari tanah air kita!!! Sehingga rakyat negeri ini mampu memperoleh manfaat dari kekayaan alam negeri sendiri.

Apa bedanya perusahaan2 Amerika Serikat itu dengan VOC yang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 Abad?

Bedanya VOC tidak pernah setoran kepada penguasa di Indonesia.

SBY….CUUUAAAAPPEE DEHHHH……!!!!!!

Repoter Nyamuk melaporkan untuk MPiers

http://nyamuklagi.multiply.com/journal/item/110/EKONOMI_INDONESIA_YANG_SALAH_URUS

My Name Is Khan,Derita Muslim versi Bollywood

By iBNuX, 18 March 2010 17:03

Oleh: Amran Nasution

My Name Is Khan adalah film India biasa, berkisah tentang percintaan manusia. Ini adalah love story. Tapi alur cerita serta setting yang melatari cerita –kota San Francisco, Amerika Serikat, setelah dua menara kembar WTC rubuh diserang teroris, 11 September 2001– menyebabkan film ini berbeda.

My Name Is Khan praktis menjadi media memberitahukan dunia apa yang sesungguhnya terjadi di Amerika Serikat setelah 11 September. Lebih dari itu, film ini mengungkap derita kaum muslim Amerika Serikat setelah serangan teror World Trade Center (WTC), New York, sesuatu yang selama ini tak banyak diketahui publik dunia, termasuk masyarakat Indonesia.

Mereka jadi korban fitnah, dituduh teroris oleh polisi atau FBI. Banyak yang ditangkap, diperiksa dengan siksaan, untuk kemudian dilepaskan karena tak ada bukti. Itu masih belum apa-apa. Tak terhitung jumlah muslim menjadi korban pengeroyokan atau penganiayaan dari orang-orang Amerika yang marah di jalan-jalan. Para wanita dilecehkan, dibuka paksa jilbabnya. Banyak rumah atau properti milik muslim dijarah atau dirusak. Semua itu rasis. Bagaimana tidak?

Ada segerombolan orang Arab dipimpin Usamah Bin Ladin, dituduh melakukan teror dengan menubrukkan pesawat  terbang ke gedung World Trade Center. Akibatnya, dua menara kembar rubuh, dan sekitar 3000 orang di dalamnya tewas. Peristiwa ini amat mengerikan.

Tapi mengapa yang jadi korban pembalasan adalah  umat Islam Amerika Serikat — berjumlah sekitar 7 juta di antara 300 juta penduduk– yang tak tahu menahu peristiwa teror itu? Jelas ini terjadi akibat sikap rasisme yang masih bersemayam di lubuk hati banyak orang Amerika Serikat. Sikap inilah dulu yang menyebabkan terjadi pemusnahan (ethnic cleansing) terhadap orang Indian di Benua Amerika, atau perbudakan selama ratusan tahun terhadap orang kulit hitam dari Afrika.

Perlakuan rasis kepada muslim setelah 11 September memang memalukan. Soalnya, Amerika Serikat selama ini selalu ditonjolkan sebagai negara kampiun demokrasi, pendukung persamaan hak, dan pelindung hak asasi manusia. Padahal melalui My Name Is Khan telah dipertontonkan betapa jelek Amerika Serikat setelah Peristiwa 11 September. Polisinya jelek, wartawannya jelek, tetangganya jelek, bahkan remajanya pun jelek. Semua tak bersahabat. Semua penuh kebencian dan rasis.

Tetap Terasa India

Di atas sudah disebutkan, My Name Is Khan adalah kisah love story yang romantik. Sebagaimana kebanyakan film Bollywood, ia kemudian menjadi melankolis, dengan adegan-adegan yang menguras air mata, untuk akhirnya  diselesaikan dengan happy ending.

Film ini bercerita tentang seorang pemuda muslim asal Mumbai, India, bernama Rizwan Khan, diperankan Shah Rukh Khan (aktor paling top dunia saat ini), pergi merantau ke San Francisco.  Kedatangannya ke Amerika Serikat atas sponsor adik kandungnya, Zakir, yang sudah lebih dulu menetap di sana, dan sukses.

Rizwan menderita Asperger’s syndrome, sejenis penyakit autis yang lebih ringan. Hal itu membuatnya tampak beda dengan manusia lain. Ia genius, mampu menghitung angka-angka yang rumit, bisa memperbaiki nyaris semua jenis mesin, tapi kesulitan berinteraksi dengan tempat atau orang baru. Ia amat takut warna kuning.

Atas bantuan Zakir, Rizwan bekerja menjadi pramuniaga produk herbal untuk kecantikan. Semua berjalan lancar. Rizwan, Zakir dan istrinya, Haseena, seorang psikolog yang memakai jilbab, tampak hidup rukun. Mereka taat beribadah.

Dalam pekerjaannya, Rizwan berkenalan dengan seorang perawat kecantikan, Mandira, diperankan artis nomor 1 India, Kajol Devgan. Janda yang ditinggalkan suaminya ini memiliki satu anak, Sameer alias Sam.

Rizwan dan Mandira saling jatuh hati lalu menikah dan menetap di luar San Francisco. Di tempat itu mereka mengusahakan salon kecantikan kecil. Mandira maupun Sameer menambahkan Khan di belakang nama mereka. Keluarga ini akrab dengan tetangganya, Mark, seorang wartawan, tinggal bersama istrinya Sarah dan anaknya Reese.

Semua berbunga-bunga. Hanya saja beda dengan film India biasanya, tak ada adegan tari dan nyanyi di dalam  My Name Is Khan. Sebagai ganti, sejumlah lagu dijadikan ilustrasi untuk menghiasi adegan tertentu. Dengan demikian film ini tetap terasa India.

Kemudian terjadilah peristiwa 11 September celaka itu.  Mark, tetangga mereka yang wartawan, ditugaskan meliput perang di Afghanistan. Ia terbunuh di sana. Sejak itu, sang anak, Reese, teman akrab Sameer, berubah menjadi musuh. Karena namanya, Sameer rupanya dianggap orang Afghanistan.

Haseena dikeroyok sejumlah lelaki hanya karena memakai jilbab. Trauma pada kejadian itu ia sempat melepas jilbab untuk sekian lama. Penduduk muslim lainnya mengalami nasib serupa: toko dirusak, rumah ditimpuk, atau orangnya dikeroyok. Malah tak sedikit orang India penganut Sikh – yang memakai serban di kepala – jadi korban karena disangka orang Afghanistan dan Muslim. Jadi sekali lagi, semua ini menggambarkan betapa sikap rasis masih berkembang subur di dalam masyarakat Amerika Serikat.

Nasib paling parah diterima Sameer. Diawali pertengkaran dengan Reese, ia dikeroyok sejumlah remaja bule hanya karena kulitnya hitam. Sebenarnya Reese mencoba menyelamatkan Sameer, tapi tak berhasil. Dalam keadaan sekarat Sameer sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong.

Rizwan sedih sekali atas nasib putra tirinya. Tapi yang terguncang adalah sang ibu, Mandira. Ia anggap ‘’bencana’’ yang menimpa mereka karena nama Khan.  Maka Rizwan sebagai biang bencana diusirnya. Ia perintahkan Rizwan mengatakan kepada orang Amerika, termasuk Presiden Amerika Serikat:  bahwa namanya Khan, tapi ia bukan teroris (My name is Khan, and I am not a terrorist).

Rizwan pun ikhlas melakukannya. Ia mengembara seorang diri. Dalam pengembaraan, ia berhasil menghadiri sebuah acara terbuka yang dihadiri Presiden George W. Bush. Dengan susah-payah ia coba mendekati Presiden sembari terus berteriak: My name is Khan, I am not a terrorist. Belum sempat teriakan itu didengar Bush, para pengawal meringkusnya. Ia dicurigai sebagai teroris.

Apa yang ia alami kemudian sungguh menyakitkan: ia dimasukkan ke ruangan bersuhu panas, lalu dipindah ke ruangan yang amat dingin. Berbagai siksaan lain harus ia terima. Agaknya film ini mengadopsi cara-cara badan intelijen Amerika, CIA, memperlakukan tahanan di  berbagai penjara rahasia yang bisa dibaca di berbagai buku atau koran. Toh akhirnya Rizwan harus dibebaskan karena tak terbukti sebagai teroris. Itu juga berkat bantuan tiga wartawan India.

Nama Rizwan kemudian melambung menjadi pahlawan di televisi karena menyelamatkan penduduk sebuah desa di Georgia yang diterjang banjir. Kebetulan penduduk desa itu orang kulit hitam dan sama sekali tak beroleh bantuan atau pertolongan dari mana pun, termasuk dari pemerintah. Setelah berita ramai di televisi, bantuan datang dari orang-orang muslim yang dikoordinasikan Haseena dan suaminya, Zakir.

Adegan ini tampaknya diilhami tragedi banjir bandang di New Orleans, Louisiana, akibat badai Katrina pada 2005. Peristiwa ini merupakan salah satu bencana alam terbesar di Amerika Serikat  – dengan hampir 2000 korban jiwa. Mayoritas korban adalah masyarakat kulit hitam dan berhari-hari tak dapat bantuan dari pemerintah. Peristiwa ini menyebabkan Presiden Bush dikecam keras oleh terutama masyarakat kulit berwarna Amerika Serikat.

Pembunuhan Muslim Gujarat

Akhirnya happy ending itu tiba. Mandira terhibur setelah polisi menangkap para remaja yang membunuh anaknya, berkat kesaksian Reese yang terus tersiksa oleh rasa bersalah atas tragedi itu. Mandira pun mencari Rizwan ke Georgia. Mereka berdua menghadiri sebuah acara pertemuan Presiden Barack Obama yang baru terpilih menggantikan George Bush, dengan para pendukungnya.

Mereka berhasil bertemu dengan Presiden baru itu. “Namamu Khan dan kau bukan teroris (Your name is Khan and you are not a terrorist),’’ ujar Obama kepada Rizwan di hadapan ribuan hadirin. Dengan pengakuan Obama, maka selesailah tugas pengembaraan Rizwan seperti diperintahkan Mandira. Setidaknya dia telah membuktikan bahwa tak semua Muslim itu teroris. Kedua sejoli pun kembali bersama.

My Name Is Khan
dirilis pertama kali di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 10 Februari lalu. Dua hari kemudian film ini beredar di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan bagian dunia lainnya, termasuk di India atau Indonesia. Di berbagai tempat film ini dikabarkan memecahkan rekor penonton film India, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. My Name Is Khan hanya tambah memperkuat dominasi Bollywood – pusat perfilman India di Mumbai — atas perfilman dunia sekarang, setelah mengungguli Hollywood.

The New York Times
, 13 Februari lalu, dalam resensinya menyebutkan adalah menarik melihat Amerika melalui lensa Bollywood, sekali pun yang diceritakan cuma dongeng. Misalnya, yang paling mengesankan dari film itu tentang hubungan antara orang muslim (India) dengan orang kulit hitam Georgia. “Khan dengan mudah memancing air mata, sembari mengajarkan tentang Islam dan toleransi,” tulis koran utama Amerika Serikat itu.

Toleransi? Kata-kata itu kian sulit dipraktikkan sekarang. Di India sendiri, My Name Is Khan beredar di tengah ancaman kekerasan dari para pendukung Shiv Sena, partai Hindu radikal yang sangat anti-Islam. Shiv Sena berarti bala tentara Shivaji, Raja Hindu yang dulu berperang melawan kekuasaan Imperium Moghul yang Islam, yang menguasai India di abad ke-16 sampai tengah abad ke-19.

Sejumlah gedung bioskop tak berani memutar My Name Is Khan. Ketika film ini dirilis di Mumbai, 12 Februari lalu, ribuan polisi terpaksa dikerahkan mengawal gedung bioskop dari aksi Shiv Sena. Kelompok itu sempat menurunkan pamplet dan poster film dari  berbagai gedung. Guna mengamankan pemutaran film sekitar dua ribu pendukung partai radikal itu terpaksa diamankan polisi.

Sebenarnya aksi Shiv Sena, menurut banyak pengamat, berfokus pada pemeran utama film itu, Shah Rukh Khan, aktor paling top India yang kebetulan beragama Islam. Akhir bulan lalu, Shah Rukh Khan yang memiliki klub kriket mempertanyakan daftar para pemain liga primer India yang tak mencantumkan satu pun pemain asal Pakistan. Padahal banyak pemain Pakistan masuk kelas pemain terbaik dunia.

Pernyataan Khan membuat marah pemimpin utama Shiv Sena, Uddhav Thackeray, mantan karikaturis yang sudah berusia 84 tahun. Di mata Thackeray, itu sebagai bukti bahwa artis yang sering digelari King Khan ini, sama sekali tak peduli pada serangan teroris dari Pakistan di Mumbai pada 2008. Thackeray menuntut Khan harus minta maaf secara terbuka. Khan menolak karena merasa tak bersalah.

Ketika Shiv Sena beraksi di Mumbai, Khan yang oleh Majalah Newsweek dipilih sebagai salah satu dari 20 tokoh paling berpengaruh dunia, sedang berkeliling di luar negeri mempromosikan filmnya. Melalui twitter, Khan menulis bahwa ia tak ingin filmnya mengganggu suasana kota kelahirannya. “Saya harap perdamaian menang dan kota dalam keadaan tenang,’’ tulisnya. Untuk diketahui penduduk muslim yang berjumlah 140-an juta di antara 1 milyar penduduk India, sering kali menjadi korban kekerasan kelompok mayoritas Hindu.

Di Mumbai, misalnya, di tahun 1993 meletus kerusuhan anti-Islam yang antara lain dikobarkan Partai Shiv Sena. Pada tahun 2002, merebak kerusuhan anti-Islam di Gujarat selama beberapa bulan, menyebabkan 2000-an muslim terbunuh.

Seperti dideskripsikan Profesor Martha Nussbaum, pakar hukum dan etik dari University of Chicago di dalam bukunya The Clash Within (Harvard University Press, 2008), pembunuhan kaum muslim di Gujarat oleh kelompok radikal Hindu amat kejam. Yang dibantai bukan hanya wanita dan anak-anak, tapi orok dalam kandungan. Wanita hamil dikeluarkan oroknya, lantas dilemparkan ke tengah kobaran api. Pemerkosaan terhadap wanita muslim banyak terjadi. Setelah diperkosa mereka juga dibuang ke api menyala.

Yang lebih parah, kerusuhan ini melibatkan institusi polisi, intelijen, atau birokrat Hindu, bahkan buku tadi menyebut nama Ketua Menteri Negara Bagian Gujarat, Narendra Modi, dari partai Hindu, Bharatiya Janata (BJP). Banyak bukti ditemukan, seperti foto-foto atau rekaman video, yang menunjukkan keterlibatan Bajrang Dal, paramiliter kelompok sayap kanan Hindu, dalam pembantaian sadistis itu.

Setelah kerusuhan, banyak properti milik Muslim yang ditinggalkan, diambil alih orang-orang Hindu. Itulah yang terjadi di India, yang sering dibanggakan sebagai negeri demokratis. Dalam salah satu artikel yang ditulisnya, Profesor Nussbaum menyesalkan peristiwa pembantaian Gujarat kurang mendapat liputan pers internasional. Seakan-akan karena korbannya orang Islam, bisa dibiarkan begitu saja. [www.hidayatullah.com]

*Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

Menikmati Tuduhan

By iBNuX, 15 March 2010 21:19

Perburuan terhadap orang-orang yang dituduh teroris dimulai, dengan bermodalkan ciri-ciri yang di kategorikan teroris menurut versi aparat, maka bersiap-siaplah anda terkapar ditengah jalan karena dituduh teroris.

Karena di negeri ini semuanya di perbolehkan bahkan korupsi yang menghisap rakyat pun pasti bisa dibebaskan, kecuali orang-orang yang berkeinginan untuk menegakkan syariat Islam dalam kehidupannya. Negeri ini memang standar kebenaran bukanlah benar atau salah, tapi uang dan kekuasaan, maka bila anda lemah dan punya secuil kebenaran, selamat gigit jari, mungkin anda adalah target operasi perang melawan teroris.

Sangat murah memang nyawa para “teroris” di bandingkan dengan nyawa koruptor dan perampok uang rakyat, bila koruptor bisa di ajak main mata dan berbagi uang hasil korupsi dan disisi lain para tertuduh teroris menganggu kekuasaan para penjual negeri ini kepada penjajah sekaligus penghalang mereka untuk mengumbar nafsu dunia yang sudah berkarat.

Maka beruntunglah hidup para pengumbar syahwat dinegeri ini, mereka dilindungi oleh Negara dan didukung oleh semua aparat pemerintahnya, lihat saja dipinggir-pinggir jalan, café-café,tempat mesum dan bioskop pemutar film picisan begitu bebas melakukan aktifitasnya dan dilegalkan oleh Negara.

Tapi bila anda ingin merubah negeri ini menjadi lebih baik, bersih maksiat dan taat kepada Sang Pencipta, jangankan senyuman yang anda terima, ribuan cacian akan mampir dan bersarang dalam tubuh anda, hingga anda tidak bisa bernafas, mati pelan-pelan atau dimatikan.

Tapi tenang saja, inilah ujian dalam memperjuangkan kebenaran. Dalam ujian ini kesabaran dan keistiqomahan kita dipertaruhkan, agar Allah tahu siapa hambaNya yang benar-benar beriman dan teguh dijalanNya. Seperti firman Allah dalam ayat-ayat cintaNya:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.( QS Al Baqarah : 214.)

Didalam ayat lain Allah juga menyinggung tentang perjuangan dengan keinginan kita masuk syurga.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, Padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.(QS Ali Imran :142)
Maka mari kita melihat ini semua sebagai ujian bagi keimanan kita kepada Allah dan RasulNya, dan sekaligus pembuktian cinta kepada Dien yang suci dan mulia ini.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. (QS Al Ankabuut ayat 2-4)

Selamat berjuang dan nikmati semua yang menimpa baik dan buruk dlam menapaki jalan suci ini, Allah selalu bersama-sama orng beriman. Allahu Akbar

[muslimdaily.net/Hanif]

http://www.muslimdaily.net/jurnalis/5284/menikmati-tuduhan

6 Hobby Unik anggota DPR RI Yang Terhormat

By iBNuX, 6 March 2010 21:29

Tidur, hobby atau kebiasaan yang selalu dilakukan oleh anggota DPR dari jaman Orde Baru sampe sekarang juga…

Teriak-teriak kalo ngomong. Kalo ngomong kok harus pake urat sih kan dah ada mic, udah keras juga gak usah kayak rocker gitu, kalo mau teriak di panggung aja nyanyi lagu metal…

Nitip absen, gak malu yah makan gaji buta….

BBan, bukannya dengerin dan nanggepin sidang malah BBan…

Bikin rusuhh, ini nih yang paling aktual dan baru aja kejadian kemaren, pada ribut, gak terkendali, dorong2an.

Ngupil…

Maen cewek…

sumber: http://www.mypepito.info/2010/03/hot-6-hobby-unik-anggota-dpr-ri-yang.html

MAUKAH ENGKAU MEMBACA INI HAI PARA PENGHUJAT?

By iBNuX, 6 February 2010 13:59

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Aku tahu engkau pasti membaca tidak hanya judulnya saja tapi alinea pertama ini dengan mencibir dan hati yang panas, apalagi alinea selanjutnya. Bersabarlah sebentar tenangkanlah hatimu, setelah itu terserah padamu.

Tulisan ini diperuntukkan HANYA bagi para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. TIDAK DIPERUNTUKKAN bagi yang tidak menghina dan tidak menghujat……

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Kenapa kamu bisa PERCAYA NAPOLEON ITU ADA sementara kamu BELAJAR DARI BUKU SEJARAH. Kenapa kamu bisa MENGHUJAT NABI MUHAMMAND sementara kamu TIDAK MEMBACA HADITS. Kenapa pula kamu bisa MENGHINA ISLAM sementara kamu TIDAK MEMPELAJARI AL QUR’AN. TANTANGANKU untukmu, BACALAH DAHULU AL QUR’AN & HADITS setelah itu bicaralah kamu, jika kamu memang orang-orang yang benar….

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Aku juga membaca buku sejarah Napoleon sepertimu maka aku percaya Napoleon itu ada dan akupun membaca Bukumu, tapi mengapa aku tidak bisa berpaling dari Kebenaranku?

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Kenapa kamu tidak mempertanyakan ‘kamu’ seperti aku mempertanyakan ‘aku’ dahulu. Lalu kenapakah aku tidak bisa berpaling dari Kebenaran?

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Bagaimana aku bisa percaya kata-katamu sedangkan kamu tidak ‘membaca’ Al Qur’an dan Hadits….

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Kenapakah engkau takut untuk ‘membaca’ Al Qur’an dan Hadits serta menerima Kebenaran. Apakah engkau takut kejahatanmu terbongkar karena Kebenaran, sedangkan banyak orang yang setelah ‘membacanya’ segala kejahatannya justru Dihapuskan dan dilupakan…

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Kenapa engkau takut menerima nasibmu setelah ‘membaca’ Al Qur’an dan Hadits. Kenapa pula engkau takut bernasib sama seperti Bunda Irene dan Cat Stevens dengan prasangkamu mereka ‘masuk neraka’?.

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Apakah Bukumu tidak mengajarkan bahwa menghina orang lain adalah suatu perbuatan dosa? Sedangkan aku juga tahu dari Bukumu bahwa menghina orang lain adalah perbuatan dosa. Apakah engkau yakin walaupun telah melakukan dosa engkau sudah dijamin masuk surga? Jika yakin kenapa engkau tidak bersegera masuk surga dan kenapa engkau menangis ketakutan jika ‘tiba waktunya’ masuk surga?

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Janganlah menghina agama kami karena kami ‘tidak diajarkan’ untuk menghina agamamu dan janganlah menghina Nabi kami seperti kami tidak pernah menghina Nabimu yang juga Nabi kami.

membuat aplikasi update status di facebook

By iBNuX, 11 January 2010 10:17

ingin membuat aplikasi update status seperti di bawah ini?
Facebook - Ibnu Fakir Benwith sedang bengong sendiri 1263173017045

caranya mudah :D
ikuti langkah di bawah ini

  1. Siapkan gambar untuk ikon nya, ukuran 16×16 dan 75×75
  2. masuk ke http://www.facebook.com/developers/
  3. berikan ijin untuk developer/pengembang
  4. di kanan atas, klik set up new application
    Image
  5. masukkan nama aplikasi, dan klik agree, klik create Application
    Image
  6. anda akan dimasukkan ke bagian edit settings, disini akan diberikan Api key dan secret.
    apikey 1263175992223
  7. buatlah url dari Api key dan secret pada notepad, seperti di bawah ini
    http://ibnux.net/fb/app/{apikey}/{secret}/
    cth: http://ibnux.net/fb/app/8d58b04c30bf181b946d0d/0c98f6e958cf90f25/
    pastikan di akhiri dengan slash
  8. kembali pada edit application, isikan deskripsi aplikasi anda, upload icon & logo anda
  9. pindah pada bagian canvas (menu di sebelah kiri)
  10. isikan canvas page url, untuk url aplikasi anda nantinya, jika sudah ada yang pakai, nanti ada notifikasi nya saat di save..
    Image
  11. pad Canvas Callback URL isikan Url yang dibuat pada langkah 7
    Image
  12. pada render method pilih FBML
    Image
  13. lalu klik save changes
  14. anda akan dialihkan ke bagian profil aplikasi.
  15. sekarang masuk ke canvas URL yang dibuat pada langkah 10
  16. berikan akses
  17. klik pada “Klik disini untuk memberikan permisi pada aplikasi”
  18. berikan izin
  19. selamat, anda telah berhasil membuat aplikasi update status di facebook :)
  20. bookmark aplikasi nya di bagian
    Image

write by iBNuX

download source code aplikasi nya

note: jika menggunakan source code aplikasi, langkah no 7 dilewati, pada langkah 11 arahkan ke tempat scriptnya di upload

jika ingin hosting sendiri dengan cara saya, silahkan pelajari:
http://ibnux.multiply.com/journal/item/103
http://ibnux.net/fb/app/index.php.txt
http://ibnux.net/fb/app/htaccess.txt

sumber:
fbcookbook.ofhas.in
http://wiki.developers.facebook.com/

Miyabi Mau Datang, Indonesia Tegang !

By iBNuX, 15 October 2009 16:40

Indonesia menurut data yang “diobral” adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar. Lantas patutkah Islam Indonesia berbangga dengan hal itu? Atau perlukah ummat Islam sedunia berbangga dengan adanya ummat Islam terbesar ada di Indonesia? Tunggu duluuuu………..

Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia hanya secara kuantitas, sedangkan dalam hal kualitas “jauh panggang dari api”. Ummat Islam yang menghiasi Indonesia sebanyak 88% populasi hanyalah sekedar pelengkap penderita yang sering dimarginalkan dan dilecehkan.

Secara ekonomi kalah dengan taipan-taipan dan boss-boss luar negeri, sedangkan ummat Islam miskin dan lemah. Secara politik, lebih banyak keputusan-keputusan yang berseberangan dengan tata aturan Islam, bahkan ironisnya Indonesia menjadi negara yang banyak terlibat kasus korupsi dan hingga kini masih dalam jajaran atas dalam “perkorupsian”.

Begitu pula dalam berkebudayaan, generasi muda Islam Indonesiapun lebih banyak terpengaruh budaya rusak yang di-injeksi-kan untuk merusak dan melemahkan Islam dari generasi mudanya. Belum lagi ditambah dengan tuduhan terrorisme dan radikalisme yang membuat sebagian besar ulama merasa terpojokkan bahkan takut dikategorikan bagian dari fundamentalias yang dikatakan sebagai bibit-bibit terrorisme.

Pada akhirnya kini terlihat bahwa ulama sebagai benteng akhlaq dan moralpun seakan dimandulkan sehingga tidak menghasilkan apa-apa dalam menjaga norma dan budaya bangsa. Budaya rusak yang disebarluaskan untuk merusak Islam bertebaran dengan berbagai model dan metode untuk bisa merusak generasi Indonesia. Mereka biasanya menggunakan alasan hak asasi, kebebasan berekspresi, persamaan hak, dan lain sebagainya, dengan tujuan memasukkan budaya dan ide-ide yang merusak.

Berbagai keputusan untuk menjaga norma susila dimentahkan, UUAPP pun sekedar nama, tak berbuah sama sekali. Untuk menghadapi kedatangan si Miyabi saja kelabakan, ramai, lantas sunyi senyap lagi kalah dengan gaung kebebasan berekspresi atau apalah alasannya. Atau mungkin memang demikianlah kualitas ummat Islam Indonesia, diajak sholat ikut, tapi diajak nonton pornografi-pun ayo. Meskipun Miyabi tidak membuat film porno di Indonesia, namun dengan publikasi mereka akhirnya orang-orang yang dulunya tidak mengenal bintang porno itu kini mengenalnya dan berusaha mencari koleksi film panasnya.

Inilah Indonesia, Islam cuma sekedar jumlah saja, tapi kualitas bobrok, hancur, jeblok, gampang dipermainkan, gampang dibodohi, lemah tak berdaya. Ulamanya tidak tegas karena takut dikaitkan dengan terrorisme, takut berseberangan dengan keputusan pemerintah yang dikendalikan oknum-oknum sekuler yang ingin membentuk Islam sesuai dengan keinginan barat agar mudah dikendalikan dan kemudian mudah untuk dihancurkan.

Pemeluk Islam Indonesia yang terlihat adalah sebagai pemeluk secara ritual saja, selebihnya kosong. Tingkah lakunya sudah banyak terpengaruh budaya tanpa agama, bahkan budaya miyabi budaya hewan.

Kini, dengan kasus publikasi Miyabi dan berbagai hal lainnya yang terus merongrong norma susila generasi Indonesia, maka mari kita perbaiki UUAPP agar semakin kuat dan optimal. Seharusnya UUAPP juga berisi peraturan pelarangan terhadap semua oknum perfilman porno untuk berada di Indonesia terutama dalam wilayah publik yang bisa mempengaruhi manusia normal menjadi hewan. Bahkan, seandainya Miyabi tidak jadi datang ke Indonesia lantas filmnya dibuat di Jepang (meskipun yang bukan porno) dan dipublikasikan di Indonesia, itupun seharusnya dilarang peredarannya.

Menjaga norma susila lebih penting daripada rating film dan uang.

Hilang uang masih bisa dicari, hilang norma susila kasihan sekali.

sumber: 2i2h.multiply.com

Panorama Theme by Themocracy