Posts tagged: islam

My Name Is Khan,Derita Muslim versi Bollywood

By iBNuX, 18 March 2010 17:03

Oleh: Amran Nasution

My Name Is Khan adalah film India biasa, berkisah tentang percintaan manusia. Ini adalah love story. Tapi alur cerita serta setting yang melatari cerita –kota San Francisco, Amerika Serikat, setelah dua menara kembar WTC rubuh diserang teroris, 11 September 2001– menyebabkan film ini berbeda.

My Name Is Khan praktis menjadi media memberitahukan dunia apa yang sesungguhnya terjadi di Amerika Serikat setelah 11 September. Lebih dari itu, film ini mengungkap derita kaum muslim Amerika Serikat setelah serangan teror World Trade Center (WTC), New York, sesuatu yang selama ini tak banyak diketahui publik dunia, termasuk masyarakat Indonesia.

Mereka jadi korban fitnah, dituduh teroris oleh polisi atau FBI. Banyak yang ditangkap, diperiksa dengan siksaan, untuk kemudian dilepaskan karena tak ada bukti. Itu masih belum apa-apa. Tak terhitung jumlah muslim menjadi korban pengeroyokan atau penganiayaan dari orang-orang Amerika yang marah di jalan-jalan. Para wanita dilecehkan, dibuka paksa jilbabnya. Banyak rumah atau properti milik muslim dijarah atau dirusak. Semua itu rasis. Bagaimana tidak?

Ada segerombolan orang Arab dipimpin Usamah Bin Ladin, dituduh melakukan teror dengan menubrukkan pesawat  terbang ke gedung World Trade Center. Akibatnya, dua menara kembar rubuh, dan sekitar 3000 orang di dalamnya tewas. Peristiwa ini amat mengerikan.

Tapi mengapa yang jadi korban pembalasan adalah  umat Islam Amerika Serikat — berjumlah sekitar 7 juta di antara 300 juta penduduk– yang tak tahu menahu peristiwa teror itu? Jelas ini terjadi akibat sikap rasisme yang masih bersemayam di lubuk hati banyak orang Amerika Serikat. Sikap inilah dulu yang menyebabkan terjadi pemusnahan (ethnic cleansing) terhadap orang Indian di Benua Amerika, atau perbudakan selama ratusan tahun terhadap orang kulit hitam dari Afrika.

Perlakuan rasis kepada muslim setelah 11 September memang memalukan. Soalnya, Amerika Serikat selama ini selalu ditonjolkan sebagai negara kampiun demokrasi, pendukung persamaan hak, dan pelindung hak asasi manusia. Padahal melalui My Name Is Khan telah dipertontonkan betapa jelek Amerika Serikat setelah Peristiwa 11 September. Polisinya jelek, wartawannya jelek, tetangganya jelek, bahkan remajanya pun jelek. Semua tak bersahabat. Semua penuh kebencian dan rasis.

Tetap Terasa India

Di atas sudah disebutkan, My Name Is Khan adalah kisah love story yang romantik. Sebagaimana kebanyakan film Bollywood, ia kemudian menjadi melankolis, dengan adegan-adegan yang menguras air mata, untuk akhirnya  diselesaikan dengan happy ending.

Film ini bercerita tentang seorang pemuda muslim asal Mumbai, India, bernama Rizwan Khan, diperankan Shah Rukh Khan (aktor paling top dunia saat ini), pergi merantau ke San Francisco.  Kedatangannya ke Amerika Serikat atas sponsor adik kandungnya, Zakir, yang sudah lebih dulu menetap di sana, dan sukses.

Rizwan menderita Asperger’s syndrome, sejenis penyakit autis yang lebih ringan. Hal itu membuatnya tampak beda dengan manusia lain. Ia genius, mampu menghitung angka-angka yang rumit, bisa memperbaiki nyaris semua jenis mesin, tapi kesulitan berinteraksi dengan tempat atau orang baru. Ia amat takut warna kuning.

Atas bantuan Zakir, Rizwan bekerja menjadi pramuniaga produk herbal untuk kecantikan. Semua berjalan lancar. Rizwan, Zakir dan istrinya, Haseena, seorang psikolog yang memakai jilbab, tampak hidup rukun. Mereka taat beribadah.

Dalam pekerjaannya, Rizwan berkenalan dengan seorang perawat kecantikan, Mandira, diperankan artis nomor 1 India, Kajol Devgan. Janda yang ditinggalkan suaminya ini memiliki satu anak, Sameer alias Sam.

Rizwan dan Mandira saling jatuh hati lalu menikah dan menetap di luar San Francisco. Di tempat itu mereka mengusahakan salon kecantikan kecil. Mandira maupun Sameer menambahkan Khan di belakang nama mereka. Keluarga ini akrab dengan tetangganya, Mark, seorang wartawan, tinggal bersama istrinya Sarah dan anaknya Reese.

Semua berbunga-bunga. Hanya saja beda dengan film India biasanya, tak ada adegan tari dan nyanyi di dalam  My Name Is Khan. Sebagai ganti, sejumlah lagu dijadikan ilustrasi untuk menghiasi adegan tertentu. Dengan demikian film ini tetap terasa India.

Kemudian terjadilah peristiwa 11 September celaka itu.  Mark, tetangga mereka yang wartawan, ditugaskan meliput perang di Afghanistan. Ia terbunuh di sana. Sejak itu, sang anak, Reese, teman akrab Sameer, berubah menjadi musuh. Karena namanya, Sameer rupanya dianggap orang Afghanistan.

Haseena dikeroyok sejumlah lelaki hanya karena memakai jilbab. Trauma pada kejadian itu ia sempat melepas jilbab untuk sekian lama. Penduduk muslim lainnya mengalami nasib serupa: toko dirusak, rumah ditimpuk, atau orangnya dikeroyok. Malah tak sedikit orang India penganut Sikh – yang memakai serban di kepala – jadi korban karena disangka orang Afghanistan dan Muslim. Jadi sekali lagi, semua ini menggambarkan betapa sikap rasis masih berkembang subur di dalam masyarakat Amerika Serikat.

Nasib paling parah diterima Sameer. Diawali pertengkaran dengan Reese, ia dikeroyok sejumlah remaja bule hanya karena kulitnya hitam. Sebenarnya Reese mencoba menyelamatkan Sameer, tapi tak berhasil. Dalam keadaan sekarat Sameer sempat dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong.

Rizwan sedih sekali atas nasib putra tirinya. Tapi yang terguncang adalah sang ibu, Mandira. Ia anggap ‘’bencana’’ yang menimpa mereka karena nama Khan.  Maka Rizwan sebagai biang bencana diusirnya. Ia perintahkan Rizwan mengatakan kepada orang Amerika, termasuk Presiden Amerika Serikat:  bahwa namanya Khan, tapi ia bukan teroris (My name is Khan, and I am not a terrorist).

Rizwan pun ikhlas melakukannya. Ia mengembara seorang diri. Dalam pengembaraan, ia berhasil menghadiri sebuah acara terbuka yang dihadiri Presiden George W. Bush. Dengan susah-payah ia coba mendekati Presiden sembari terus berteriak: My name is Khan, I am not a terrorist. Belum sempat teriakan itu didengar Bush, para pengawal meringkusnya. Ia dicurigai sebagai teroris.

Apa yang ia alami kemudian sungguh menyakitkan: ia dimasukkan ke ruangan bersuhu panas, lalu dipindah ke ruangan yang amat dingin. Berbagai siksaan lain harus ia terima. Agaknya film ini mengadopsi cara-cara badan intelijen Amerika, CIA, memperlakukan tahanan di  berbagai penjara rahasia yang bisa dibaca di berbagai buku atau koran. Toh akhirnya Rizwan harus dibebaskan karena tak terbukti sebagai teroris. Itu juga berkat bantuan tiga wartawan India.

Nama Rizwan kemudian melambung menjadi pahlawan di televisi karena menyelamatkan penduduk sebuah desa di Georgia yang diterjang banjir. Kebetulan penduduk desa itu orang kulit hitam dan sama sekali tak beroleh bantuan atau pertolongan dari mana pun, termasuk dari pemerintah. Setelah berita ramai di televisi, bantuan datang dari orang-orang muslim yang dikoordinasikan Haseena dan suaminya, Zakir.

Adegan ini tampaknya diilhami tragedi banjir bandang di New Orleans, Louisiana, akibat badai Katrina pada 2005. Peristiwa ini merupakan salah satu bencana alam terbesar di Amerika Serikat  – dengan hampir 2000 korban jiwa. Mayoritas korban adalah masyarakat kulit hitam dan berhari-hari tak dapat bantuan dari pemerintah. Peristiwa ini menyebabkan Presiden Bush dikecam keras oleh terutama masyarakat kulit berwarna Amerika Serikat.

Pembunuhan Muslim Gujarat

Akhirnya happy ending itu tiba. Mandira terhibur setelah polisi menangkap para remaja yang membunuh anaknya, berkat kesaksian Reese yang terus tersiksa oleh rasa bersalah atas tragedi itu. Mandira pun mencari Rizwan ke Georgia. Mereka berdua menghadiri sebuah acara pertemuan Presiden Barack Obama yang baru terpilih menggantikan George Bush, dengan para pendukungnya.

Mereka berhasil bertemu dengan Presiden baru itu. “Namamu Khan dan kau bukan teroris (Your name is Khan and you are not a terrorist),’’ ujar Obama kepada Rizwan di hadapan ribuan hadirin. Dengan pengakuan Obama, maka selesailah tugas pengembaraan Rizwan seperti diperintahkan Mandira. Setidaknya dia telah membuktikan bahwa tak semua Muslim itu teroris. Kedua sejoli pun kembali bersama.

My Name Is Khan
dirilis pertama kali di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 10 Februari lalu. Dua hari kemudian film ini beredar di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan bagian dunia lainnya, termasuk di India atau Indonesia. Di berbagai tempat film ini dikabarkan memecahkan rekor penonton film India, seperti di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. My Name Is Khan hanya tambah memperkuat dominasi Bollywood – pusat perfilman India di Mumbai — atas perfilman dunia sekarang, setelah mengungguli Hollywood.

The New York Times
, 13 Februari lalu, dalam resensinya menyebutkan adalah menarik melihat Amerika melalui lensa Bollywood, sekali pun yang diceritakan cuma dongeng. Misalnya, yang paling mengesankan dari film itu tentang hubungan antara orang muslim (India) dengan orang kulit hitam Georgia. “Khan dengan mudah memancing air mata, sembari mengajarkan tentang Islam dan toleransi,” tulis koran utama Amerika Serikat itu.

Toleransi? Kata-kata itu kian sulit dipraktikkan sekarang. Di India sendiri, My Name Is Khan beredar di tengah ancaman kekerasan dari para pendukung Shiv Sena, partai Hindu radikal yang sangat anti-Islam. Shiv Sena berarti bala tentara Shivaji, Raja Hindu yang dulu berperang melawan kekuasaan Imperium Moghul yang Islam, yang menguasai India di abad ke-16 sampai tengah abad ke-19.

Sejumlah gedung bioskop tak berani memutar My Name Is Khan. Ketika film ini dirilis di Mumbai, 12 Februari lalu, ribuan polisi terpaksa dikerahkan mengawal gedung bioskop dari aksi Shiv Sena. Kelompok itu sempat menurunkan pamplet dan poster film dari  berbagai gedung. Guna mengamankan pemutaran film sekitar dua ribu pendukung partai radikal itu terpaksa diamankan polisi.

Sebenarnya aksi Shiv Sena, menurut banyak pengamat, berfokus pada pemeran utama film itu, Shah Rukh Khan, aktor paling top India yang kebetulan beragama Islam. Akhir bulan lalu, Shah Rukh Khan yang memiliki klub kriket mempertanyakan daftar para pemain liga primer India yang tak mencantumkan satu pun pemain asal Pakistan. Padahal banyak pemain Pakistan masuk kelas pemain terbaik dunia.

Pernyataan Khan membuat marah pemimpin utama Shiv Sena, Uddhav Thackeray, mantan karikaturis yang sudah berusia 84 tahun. Di mata Thackeray, itu sebagai bukti bahwa artis yang sering digelari King Khan ini, sama sekali tak peduli pada serangan teroris dari Pakistan di Mumbai pada 2008. Thackeray menuntut Khan harus minta maaf secara terbuka. Khan menolak karena merasa tak bersalah.

Ketika Shiv Sena beraksi di Mumbai, Khan yang oleh Majalah Newsweek dipilih sebagai salah satu dari 20 tokoh paling berpengaruh dunia, sedang berkeliling di luar negeri mempromosikan filmnya. Melalui twitter, Khan menulis bahwa ia tak ingin filmnya mengganggu suasana kota kelahirannya. “Saya harap perdamaian menang dan kota dalam keadaan tenang,’’ tulisnya. Untuk diketahui penduduk muslim yang berjumlah 140-an juta di antara 1 milyar penduduk India, sering kali menjadi korban kekerasan kelompok mayoritas Hindu.

Di Mumbai, misalnya, di tahun 1993 meletus kerusuhan anti-Islam yang antara lain dikobarkan Partai Shiv Sena. Pada tahun 2002, merebak kerusuhan anti-Islam di Gujarat selama beberapa bulan, menyebabkan 2000-an muslim terbunuh.

Seperti dideskripsikan Profesor Martha Nussbaum, pakar hukum dan etik dari University of Chicago di dalam bukunya The Clash Within (Harvard University Press, 2008), pembunuhan kaum muslim di Gujarat oleh kelompok radikal Hindu amat kejam. Yang dibantai bukan hanya wanita dan anak-anak, tapi orok dalam kandungan. Wanita hamil dikeluarkan oroknya, lantas dilemparkan ke tengah kobaran api. Pemerkosaan terhadap wanita muslim banyak terjadi. Setelah diperkosa mereka juga dibuang ke api menyala.

Yang lebih parah, kerusuhan ini melibatkan institusi polisi, intelijen, atau birokrat Hindu, bahkan buku tadi menyebut nama Ketua Menteri Negara Bagian Gujarat, Narendra Modi, dari partai Hindu, Bharatiya Janata (BJP). Banyak bukti ditemukan, seperti foto-foto atau rekaman video, yang menunjukkan keterlibatan Bajrang Dal, paramiliter kelompok sayap kanan Hindu, dalam pembantaian sadistis itu.

Setelah kerusuhan, banyak properti milik Muslim yang ditinggalkan, diambil alih orang-orang Hindu. Itulah yang terjadi di India, yang sering dibanggakan sebagai negeri demokratis. Dalam salah satu artikel yang ditulisnya, Profesor Nussbaum menyesalkan peristiwa pembantaian Gujarat kurang mendapat liputan pers internasional. Seakan-akan karena korbannya orang Islam, bisa dibiarkan begitu saja. [www.hidayatullah.com]

*Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini,  bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta

MAUKAH ENGKAU MEMBACA INI HAI PARA PENGHUJAT?

By iBNuX, 6 February 2010 13:59

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Aku tahu engkau pasti membaca tidak hanya judulnya saja tapi alinea pertama ini dengan mencibir dan hati yang panas, apalagi alinea selanjutnya. Bersabarlah sebentar tenangkanlah hatimu, setelah itu terserah padamu.

Tulisan ini diperuntukkan HANYA bagi para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. TIDAK DIPERUNTUKKAN bagi yang tidak menghina dan tidak menghujat……

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Kenapa kamu bisa PERCAYA NAPOLEON ITU ADA sementara kamu BELAJAR DARI BUKU SEJARAH. Kenapa kamu bisa MENGHUJAT NABI MUHAMMAND sementara kamu TIDAK MEMBACA HADITS. Kenapa pula kamu bisa MENGHINA ISLAM sementara kamu TIDAK MEMPELAJARI AL QUR’AN. TANTANGANKU untukmu, BACALAH DAHULU AL QUR’AN & HADITS setelah itu bicaralah kamu, jika kamu memang orang-orang yang benar….

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Aku juga membaca buku sejarah Napoleon sepertimu maka aku percaya Napoleon itu ada dan akupun membaca Bukumu, tapi mengapa aku tidak bisa berpaling dari Kebenaranku?

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Kenapa kamu tidak mempertanyakan ‘kamu’ seperti aku mempertanyakan ‘aku’ dahulu. Lalu kenapakah aku tidak bisa berpaling dari Kebenaran?

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Bagaimana aku bisa percaya kata-katamu sedangkan kamu tidak ‘membaca’ Al Qur’an dan Hadits….

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Kenapakah engkau takut untuk ‘membaca’ Al Qur’an dan Hadits serta menerima Kebenaran. Apakah engkau takut kejahatanmu terbongkar karena Kebenaran, sedangkan banyak orang yang setelah ‘membacanya’ segala kejahatannya justru Dihapuskan dan dilupakan…

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Kenapa engkau takut menerima nasibmu setelah ‘membaca’ Al Qur’an dan Hadits. Kenapa pula engkau takut bernasib sama seperti Bunda Irene dan Cat Stevens dengan prasangkamu mereka ‘masuk neraka’?.

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Apakah Bukumu tidak mengajarkan bahwa menghina orang lain adalah suatu perbuatan dosa? Sedangkan aku juga tahu dari Bukumu bahwa menghina orang lain adalah perbuatan dosa. Apakah engkau yakin walaupun telah melakukan dosa engkau sudah dijamin masuk surga? Jika yakin kenapa engkau tidak bersegera masuk surga dan kenapa engkau menangis ketakutan jika ‘tiba waktunya’ masuk surga?

Wahai para penghina Islam dan penghujat Nabi Muhammad. Janganlah menghina agama kami karena kami ‘tidak diajarkan’ untuk menghina agamamu dan janganlah menghina Nabi kami seperti kami tidak pernah menghina Nabimu yang juga Nabi kami.

Miyabi Mau Datang, Indonesia Tegang !

By iBNuX, 15 October 2009 16:40

Indonesia menurut data yang “diobral” adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar. Lantas patutkah Islam Indonesia berbangga dengan hal itu? Atau perlukah ummat Islam sedunia berbangga dengan adanya ummat Islam terbesar ada di Indonesia? Tunggu duluuuu………..

Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia hanya secara kuantitas, sedangkan dalam hal kualitas “jauh panggang dari api”. Ummat Islam yang menghiasi Indonesia sebanyak 88% populasi hanyalah sekedar pelengkap penderita yang sering dimarginalkan dan dilecehkan.

Secara ekonomi kalah dengan taipan-taipan dan boss-boss luar negeri, sedangkan ummat Islam miskin dan lemah. Secara politik, lebih banyak keputusan-keputusan yang berseberangan dengan tata aturan Islam, bahkan ironisnya Indonesia menjadi negara yang banyak terlibat kasus korupsi dan hingga kini masih dalam jajaran atas dalam “perkorupsian”.

Begitu pula dalam berkebudayaan, generasi muda Islam Indonesiapun lebih banyak terpengaruh budaya rusak yang di-injeksi-kan untuk merusak dan melemahkan Islam dari generasi mudanya. Belum lagi ditambah dengan tuduhan terrorisme dan radikalisme yang membuat sebagian besar ulama merasa terpojokkan bahkan takut dikategorikan bagian dari fundamentalias yang dikatakan sebagai bibit-bibit terrorisme.

Pada akhirnya kini terlihat bahwa ulama sebagai benteng akhlaq dan moralpun seakan dimandulkan sehingga tidak menghasilkan apa-apa dalam menjaga norma dan budaya bangsa. Budaya rusak yang disebarluaskan untuk merusak Islam bertebaran dengan berbagai model dan metode untuk bisa merusak generasi Indonesia. Mereka biasanya menggunakan alasan hak asasi, kebebasan berekspresi, persamaan hak, dan lain sebagainya, dengan tujuan memasukkan budaya dan ide-ide yang merusak.

Berbagai keputusan untuk menjaga norma susila dimentahkan, UUAPP pun sekedar nama, tak berbuah sama sekali. Untuk menghadapi kedatangan si Miyabi saja kelabakan, ramai, lantas sunyi senyap lagi kalah dengan gaung kebebasan berekspresi atau apalah alasannya. Atau mungkin memang demikianlah kualitas ummat Islam Indonesia, diajak sholat ikut, tapi diajak nonton pornografi-pun ayo. Meskipun Miyabi tidak membuat film porno di Indonesia, namun dengan publikasi mereka akhirnya orang-orang yang dulunya tidak mengenal bintang porno itu kini mengenalnya dan berusaha mencari koleksi film panasnya.

Inilah Indonesia, Islam cuma sekedar jumlah saja, tapi kualitas bobrok, hancur, jeblok, gampang dipermainkan, gampang dibodohi, lemah tak berdaya. Ulamanya tidak tegas karena takut dikaitkan dengan terrorisme, takut berseberangan dengan keputusan pemerintah yang dikendalikan oknum-oknum sekuler yang ingin membentuk Islam sesuai dengan keinginan barat agar mudah dikendalikan dan kemudian mudah untuk dihancurkan.

Pemeluk Islam Indonesia yang terlihat adalah sebagai pemeluk secara ritual saja, selebihnya kosong. Tingkah lakunya sudah banyak terpengaruh budaya tanpa agama, bahkan budaya miyabi budaya hewan.

Kini, dengan kasus publikasi Miyabi dan berbagai hal lainnya yang terus merongrong norma susila generasi Indonesia, maka mari kita perbaiki UUAPP agar semakin kuat dan optimal. Seharusnya UUAPP juga berisi peraturan pelarangan terhadap semua oknum perfilman porno untuk berada di Indonesia terutama dalam wilayah publik yang bisa mempengaruhi manusia normal menjadi hewan. Bahkan, seandainya Miyabi tidak jadi datang ke Indonesia lantas filmnya dibuat di Jepang (meskipun yang bukan porno) dan dipublikasikan di Indonesia, itupun seharusnya dilarang peredarannya.

Menjaga norma susila lebih penting daripada rating film dan uang.

Hilang uang masih bisa dicari, hilang norma susila kasihan sekali.

sumber: 2i2h.multiply.com

Ironis, Memalukan, dan Berbahaya…!!!

By iBNuX, 30 August 2009 20:47

“Sebuah Artikel yang menggugah pikiran”.  ibnux.

Jakarta, 15 Mei 2009.


Bismillaahirrohmanirrohiim.
Assalamua’laikum wa rahmatullaahi wa barokaatu.


Ikwanii waa Akhwatii saudara kami yang semoga dirahmati oleh Allah swt…

Dalam kesempatan ini saya bermaksud hendak mengajak antum untuk berdiskusi, dan jika memungkinkan mari pula kita rangkum menjadi solusi, atas DEBILITAS dunia PENDIDIKAN yang menurut saya telah di tipu habis-habisan oleh sistem DEMOKRASI.

Apa yang saya maksud itu, silakan ikuti penjelasan singkatnya di bawah ini. Semoga antum berkenan…

NASIB PELAJAR DI PALESTINA, SEBUAH NEGERI YANG TENGAH DI JAJAH OLEH ISRAEL BESERTA SEKUTUNYA LAKNATULLAH.

BAGAIMANA PULA DENGAN NASIB PARA MAHASISWA DI INDONESIA “MERDEKA“, YANG KATANYA HARUS JADI SARJANA DULU BIAR DAPAT PEKERJAAN YANG LAYAK…!?

Pada kenyataannya perguruan tinggi (PT) tidak menjamin hal tersebut kepada seluruh mahasiswanya. Alhasil, para sarjana ini harus memulai lagi dari NOL untuk mendapatkan pekerjaan bagi dirinya. Ironis-nya, kondisi ini terjadi setelah 5 tahun dari waktu, biaya, tenaga, serta pikiran, harus mereka korbankan namun menguap begitu saja.


Apakah PT dan pemerintah Republik Indonesia ini tengah melakukan BISNIS kepada rakyatnya!? Wallahua’lam. Tetapi jika memang demikian, semestinya kedua-belah pihak harus mendapat untung, atau kata si bule “win-win-solution“. Sebab tidak ada gunanya seseorang membeli televisi, apabila ia masih harus nonton di rumah tetangga lantaran teve miliknya itu tidak dapat di hidupkan. Begitu juga dengan IJAZAH!? Untuk apa ijazah bila akhirnya ia akan sama saja dengan orang yang tidak punya ijazah, bahkan lebih PINTAR dari dirinya…!?

Bukankah yang demikian itu merupakan suatu bentuk PENIPUAN dari sebuah sistem yang di kondisikan? Sadarkah Anda bahwa DEMOKRASI itu telah melumpuhkan otak dan keimanan kita!? Sehingga sesuatu yang nyata-nyata keliru dan salah, malah dibenarkan. Sementara pihak-pihak yang SADAR dan ingin kembali kepada SYARI’AT ALLAH, jelas mereka akan dimusuhi dan dipermasalahkan…!?

Saksikanlah salah satu ciri dari manusia-manusia munafik, sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS.am-Nisaa’ {4}: 142)

Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS.Faathir {35}: 5).

Bila saja kita menyadari akibat FATAL dari SISTEM demokrasi SESAT itu sekarang juga, segeralah nyatakan dengan tegas kepada diri dan keimanan kita masing-masing. “Cukup sampai di sini saja kita mendengar kabar, serta mengalami (semisal) kasus PENGANGGURAN dengan jumlah jutaan manusia pada negeri yang di takdirkan oleh Allah, memiliki kekayaan luar biasa seperti Indonesia ini“, masyaAllaah…

Contoh Soal : http://www.glendoh.com/pengangguran/pengangguran-oh-pengangguran/

Wahai ikhwanii wa akhwatii saudara kami rahiimakumullaah…
BAGAIMANA MENURUT PENDAPAT ANTUM TENTANG ARGUMENTASI DI ATAS. Mari kita diskusikan bersama. InsyaAllah bermanfaat dan membuka mata hati kita, amiin…

Afwan jiddan…
Wassalamua’laikum Wr.Wb.
Muhammad Dive.


Sumber: http://cjdive.multiply.com/journal/item/124

Melawan Teror Penguasa

By iBNuX, 26 August 2009 19:29

Semoga tulisan ini bisa menjadikan perlawanan di belakang layar terhadap teror yang dilakukan penguasa.

barangsiapa bangun di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Dan barangsiapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka  (kaum muslimin).” (HR  Hakim dan Al Khatib dari Hudzaifah ra.)

Riwayat lain dikatakan “Siapa saja yang bangun pagi harinya, dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berarti apa-apa di sisi Allah SWT. Dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslim, maka dia tidak termasuk golongan mereka” (HR. Thabrani dari Abu Dzar al-Ghifari)


DEFINISI SUBYEKTIF TERORISME
sebelum kita berbicara tentang terorisme yang bukan merupakan perkara kriminal semata, marilah kita definisikan terlebih dahulu makna terorisme yang ada. Menurut Wikipedia, Teror atau Terorisme tidak selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak.

Mengenai pengertian yang baku dan definitive dari apa yang disebut dengan Tindak Pidana Terorisme itu, sampai saat ini belum ada keseragaman. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Oleh karena itu menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif [Indriyanto Seno Adji, “Terorisme, Perpu No.1 tahun 2002 dalam Perspektif Hukum Pidana” dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia (Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2001), hal. 35.].

Tidak mudahnya merumuskan definisi Terorisme, tampak dari usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membentuk Ad Hoc Committee on Terrorism tahun 1972 yang bersidang selama tujuh tahun tanpa menghasilkan rumusan definisi [IMuhammad Mustofa, Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi, Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, vol 2 no III (Desember 2002): 35.].

Pengertian paling otentik adalah pengertian yang diambil secara etimologis dari kamus dan ensiklopedia. Dari pengertian etimologis itu dapat diintepretasikan pengembangannya yang biasanya tidak jauh dari pengertian dasar tersebut [Kunarto, Intelijen Pengertian dan Pemahamannya, (Jakarta: Cipta Manunggal, 1999), hal.19.].

DEFINISI AMERIKA TERHADAP TERORISME
Dr. Knet Lyne Oot, seperti dikutip M. Riza Sihbudi[2], mendefinisikan terorisme sebagai :

(a) Sebuah aksi militer atau psikologis yang dirancang untuk menciptakan ketakutan, atau membuat kehancuran ekonomi atau material;
(b) Sebuah pemaksaan tingkah laku lain;
(c) Sebuah tindakan kriminal yang bertendensi mencari publisitas;
(d) Tindakan kriminal bertujuan politis;
(e) Kekerasan bermotifkan politis; dan
(f) Sebuah aksi kriminal guna memperoleh tujuan politis atau ekonomis.

Jika definisi tersebut dipakai, menurut Riza, maka perang atau usaha memproduksi senjata pemusnah umat manusia dapat dikategorikan sebagai terorisme. Para pemimpin negara industri maju (Barat) dapat dijuluki “biang teroris” karena memproduksi senjata pemusnah massal seperti peluru kendali.

Sementara Encyclopedia Americana[3] menyebutkan, terorisme adalah penggunaan atau ancaman kekerasan yang terbatas pada kerusakan fisik namun berdampak psikologis tinggi karena ia menciptakan ketakutan dan kejutan. Keefektifan terorisme lebih bersifat politik ketimbang militer. Dengan demikian, aksi teroris dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sebuah pesan. Di sini, terorisme bisa dipahami sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan kandungan “pesan politik”.

Secara konvensional, “terorisme” ditujukan pada aksi-aksi kaum revolusioner atau kaum nasionalis yang menentang pemerintah, sedangkan “teror” merujuk pada aksi-aksi pemerintah untuk menumpas pemberontakan. Pada prakteknya, pembedaan antara “terorisme” dan “teror” tidak selalu jelas.

Istilah terorisme, menurut Noam Chomsky[4], mulai digunakan pada abad ke-18 akhir, terutama untuk menunjuk aksi-aksi kekerasan pemerintah yang dimaksudkan untuk menjamin ketaatan rakyat. Istilah ini diterapkan terutama untuk “terorisme pembalasan” oleh individu atau kelompok-kelompok.

Sekarang, pemakaian istilah terorisme dibatasi hanya untuk pengacau-pengacau yang mengusik pihak yang kuat. Inilah yang terjadi sekarang. Dalam Kamus Amerika Serikat (AS), terorisme adalah tindakan protes yang dilakukan negara-negara atau kelompok-kelompok “pemberontak”. Pembunuhan seorang tentara Israel oleh HAMAS, misalnya, disebut aksi terorisme. Namun, ketika tentara Israel membantai puluhan, ratusan, bahkan ribuan warga Palestina bukanlah aksi teror, melainkan aksi “pembalasan” (retaliation).

Mengemukakan perbedaan pendapat mengenai siapa yang dianggap teroris, Martin Indyk, mantan Duta Besar Amerika di Israel yang sekarang menjadi analis senior Lembaga Brookings mencontohkan konflik Israel Palestina. Menurutnya, orang yang dianggap teroris oleh Israel, adalah pejuang kemerdekaan bagi orang Palestina.

Laporan Ariel Cohen –yang pernah tinggal di Israel selama sebelas tahun dan lulusan Bar Ilan University Law School di Tel Aviv– dipublikasikan oleh the Heritage Foundation yang dikenal luas sebagai think-tank Konservatif yang dekat dengan kelompok neo-Konservatif. Sementara Zeyno Baran –Direktur Program Energi dan Keamanan Internasional Nixon Centre– ternyata memiliki hubungan yang dekat dengan perusahan-perusahan minyak AS yang beroperasi di Asia Tengah dan rezim otoriter di Asia Tengah (lihat, Who is Zeyno Baran, www.khilafah.com) .Wajar kalau kemudian banyak muncul ketidakakuratan, inkonsistensi, generalisasi keliru, bahkan kebohongan dalam tulisan-tulisan tersebut. Alhasil definisi terorisme -yang dimainkan oleh barat- tidak lain adalah untuk melanggengkan dominasinya di negara lain, khususnya untuk kepentingan ekonomi, hukum, dan politik.

Dalam pernyataannya pada pertemuan ke 89 legiun veteran Amerika di Reno, Nevada, (28/08/2007), Presiden Bush mencoba untuk menghubungkan perjuangan Khilafah dengan aksi kekerasan, terutama yang terjadi di Irak.

“Para ekstrimis ini berharap untuk menentukan visi gelap yang sama di sepanjang Timur Tengah dengan menegakkan sebuah kekerasan dan khilafah radikal yang terbentang dari Spanyol hingga Indonesia.” (“These extremists hope to impose that same dark vision across the Middle East by raising up a violent and radical caliphate that spans from Spain to Indonesia.”winking

Mengapa Definisi Ini Dibiarkan Kabur
Dalam buku Teroris Melawan Teroris, Abu Umar Basyir, PBB telah menerbitkan beberapa resolusi –dalam jangka waktu yang sangat singkat—yang menyatakan perang terhadap terorisme dan para teroris. Namun pernyataan perang ini tanpa disertai definisi, sifat, jenis, dan bentuk teror yang hendak diperanginya. Selanjutnya lembaga itu mengharuskan seluruh Negara anggotanya menyepakati perang terhadap terror tersebut. (halaman 43)

1. Pendefinisian terorisme yang harus diperangi serta pembatasan ciri-ciri dan sifatnya akan menjadikan semua yang berada di luar definisi dan ciri-ciri ini tidak termasuk terorisme. Semua yang bergerak diluar lingkup definisi dan ciri-ciri –khususnya dari kalangan Islamis—tidak mungkin diburu dengan tuduhan sebagai teroris. Berbagai aktifitas yang dilakukannya tidak mungkin dikategorikan sebagai aktifitas terorisme. Mereka tidak ingin hal semacam ini terjadi!

2. Pendefinisian terorisme yang harus diperangi bisa jadi akan dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan kemerdekaan di seluruh dunia –yang jumlahnya sangat banyak—dalam perjuangan mereka untuk memerdekakan diri dari penjajahan dan kedzoliman kaum imperalis penjajah. Hal itu disebabkan gerakan-gerakan tersebut beraktifitas di luar kerangka terorisme yang disepakati untuk dihukum. Mereka juga tidak ingin hal semacam ini terjadi!

3. Pendefinisian terorisme yang harus diperangi dan disepakati, akan mencegah banyak Negara agresor untuk melakukan berbagai bentuk yang dikehendakinya terhadap bangsa-bangsa lemah, khususnya Amerika Serikat sebagai pelindung terorisme internasional dan anak tirinya, Zionis Yahudi. Mereka tidak menginginkan hal in terjadi!

Pengaburan definisi terorisme yang harus diperangi ini akan menjadikan kekuatan-kekuatan adidaya dan tirani dimuka bumi ini –dalam skala luas—untuk melakukan campur tangan terhadap urusan Negara dan bangsa lain, serta menggunakan teror berskala luas dengan atas nama “Perang Terhadap Terorisme” dan “Pembururan Terhadap Para Teroris”!

Pengaburan definisi terorisme juga bisa menjadikan istilah ini seperti karet yang bisa dibentuk sesuai kemauan para politikus yang berkuasa. Mereka bisa memasukkan siapa saja yang mereka kehendaki ke dalam golongan teroris dan dibawah payung perburuan terhadap para teroris, sekalipun sebenarnya orang tersebut bukan teroris. Sebaliknya mereka bisa mengeluarkan siapa saja yang mereka kehendaki dari lingkaran terorisme, sekalipun ia benar-benar dan terbukti sebagai seorang teroris dan penjahat!

4. Pendefinisian makna terorisme yang harus diperangi bisa jadi akan menampakkan bahwa jihad dan perlawanan rakyat Palestina terhadap Zionis Yahudi sebagai sebuah perjuangan legal yang tidak termasuk kategori terorisme. Ini berarti merupakan pengakuan tidak langsung bahwa Negara Zionis Yahudi merupakan Negara penjajah dan penjarah hak-hak bangsa lain, tidak memiliki legalitas, layak dilawan dan diperangi hingga mereka benar-benar terusir. Mereka tidak menginginkan hal ini terjadi, sama sekali!

5. Pendefinisian makna terorisme dan kesepakatan internasional mengenainya akan memunculkan konsekuensi dipersalahkannya Negara-negara agressor yang menggunakan semua jenis terorisme.

Tanggal 29 Oktober 2002 muncul sebuah dokumen CIA yang menyebutkan, bahwa akar terorisme adalah ketidakstabilan di Afganistan, usaha Iran dan Suriah untuk membangun persenjataan, memburuknya konflik Israel-Palestina, dan generasi muda yang menggeliat di negara-negara berkembang yang sistem ekonomi dan ideologi politiknya di bawah tekanan yang berat.

Mantan Menlu RI Ali Alatas pernah menyatakan, “Terorisme bisa berawal dari ketidakadilan, juga rasa ketidakadilan secara ekonomi dan politis.”

Kita bertanya,
(1) siapa yang menciptakan ketidakstabilan di Afghanistan?
(2) Mengapa Suriah dan Iran membangun persenjataan?
(3) Kenapa konflik Israel-Palestina memburuk?
(4) Kenapa generasi muda menggeliat dalam situasi ekonomi dan ideologi yang tertekan?

Kita tahu jawabannya. Afghanistan tidak stabil karena AS tidak ingin ada rezim Islam yang kuat di sana. Suriah dan Iran membangun persenjataan karena merasa terancam oleh kehadiran Israel yang didukung penuh AS. Konflik Israel-Palestina memburuk karena AS selalu berada di belakang Israel. Kaum muda di negara-negara berkembang, khususnya negara Muslim, melakukan perlawanan karena mereka menyadari kuatnya kendali AS terhadap penguasa.

Singkatnya, dari arah mana pun kita mencari akar terorisme, kita akan menemukan penyebab utamanya adalah Amerika Serikat. Wajar, jika dunia akan aman-damai jika kekuatan AS lemah, bahkan hancur, dan Islam yang rahmatan lil ‘alamin menjadi acuan peradaban dunia, bukan materialisme-kapitalisme yang selama ini dicekokkan AS kepada warga dunia.

Perebutan Proyek Terorisme
Banyak pengamat yang mencurigai adanya koalisi antar para teroris dengan negara. Seperti dugaan mantan napol kasus Woyla yang juga peneliti di Centre for Democracy and Social Studies (CeDsos) mengatakan, pelaku berasal dari kelompok teroris yang sudah terkooptasi oleh intelijen Indonesia. “Jaringan itu sering keluar masuk di Pejaten,” ujarnya enteng. Hanya saja, dia tidak menyebut secara gamblang bahwa yang dimaksud adalah markas Badan Intelijen Negara (BIN) yang berada di Pejaten, Jakarta Selatan dalam sebuah diskusi bertema ‘Apa dan Bagaimana Teroris’ yang digelar di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (25/7/2009). Talkshow ini juga disiarkan jaringan radio Trijaya FM.

Presiden SBY juga bersikeras memasukkan TNI dalam lahan yang selama ini didominasi oleh kubu gories mere. Yang merupakan investigator bom JW Marriott dan ‘boss’ pertama densus 88. Lebih lanjut Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jaleswari Pramowardhani, Jumat (21/8) ketidakjelasan alasan soal mengapa militer diterjunkan untuk menangani terorisme dapat memunculkan kecurigaan masyarakat kalau yang terjadi sebenarnya adalah saling berebut peran dan kekuasaan antara aparat keamanan (polisi) dan pertahanan (TNI). Tambah lagi, TNI memang memiliki kemampuan intelijen, tempur, dan penjinakan bahan peledak. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk memburu para teroris dan mengantisipasi serangan mereka. Tidak cuma itu, keterlibatan militer juga dijamin melalui Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, terutama terkait aturan tentang Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Senada dengan pernyataan peneliti LIPI Ketua Moderat Muslim Society, Zuhairi Misrawi dalam diskusi Trijaya di Jakarta, Sabtu (25/7) mengatakan. “Kalau memang benar ternyata para teroris sering keluar masuk ke kantor BIN, jangan sampai ada perselingkuhan antara aparat negara dengan gerakan teroris. Dengan adanya bom ini kan negara terima duit dari negara lain, jangan-jangan ini malah dijadikan proyek negara untuk mendapatkan duit,”

Sebenarnya sejak tahun 2008, gories mere telah dicopot dari polri. Selama tiga tahun menjabat Wakil Kepala Bareskrim, Gories punya kewenangan yang sungguh besar, sehingga mampu menembus semua lini menggunakan otoritasnya, termasuk mengerahkan Pasukan Anti Teror. Sehingga dengan pencopotan ini, Gories kehilangan semua kewenangan yang sangat besar itu.

TARGET KAPOLRI
Patut dapat diduga, Kalakhar BNN yang berambisi jadi Kapolri atau Wakapolri ini “sempat” ingin membangun opini publik bahwa dirinya adalah korban kezaliman. Mengutip tulisan redaksi katakami.com “yang bersangkutan sudah terlempar dari TIM ANTI TEROR POLRI sejak setahun terakhir. Sudah digeser dan dipinggirkan dari penanganan terorisme di Indonesia. Kalau disebutkan ada ancaman bom untuk GORIES MERE, pertanyaannya adalah rumah yang mana yang diancam ? Sepanjang yang kami ketahui, yang bersangkutan ini mengumumkan secara resmi bahwa ia tinggal bersama ibunda yang melahirkannya yaitu BERTHA BLASIUS JOAKIM MERE di kawasan Tebet. Itu sebabnya, ayah dari dua orang anak ini — Robet Bobby Mere & Jesicca Buanita Mere — terdaftar sebagai anggota umat di Paroki Gereja Fransiskus Asissi Tebet Jakarta Selatan. Kalau ancaman itu di rumah dinas, rumah dinas mana ? Sepanjang yang kami ketahui, yang bersangkutan ini tidak pernah mendiami rumah dinasnya. Sepanjang yang kami ketahui juga, yang bersangkutan ini jika berpergian keluar akan dijaga oleh minimal pengawalnya dari Tim Anti Teror yang masih sangat loyal kepada dirinya. Patut dapat diduga, yang bersangkutan juga memiliki bisnis KEMAFIAAN di bidang SECURITY sehingga mustahil sekali ada pihak luar yang bisa memasuki wilayah RING SATU Gories Mere”.

Jenderal (purn) Soetanto yang sebelumnya merupakan Kepala BNN (Badan Narkotika Nasional) bisa menduduki jabatan kapolri. Oleh karenanya dugaan gories mere memasuki pintu BNN sebagai batu loncatan promosi jabatan kapolri patut dicurigai.

NEGARA JANGAN KALAH DENGAN INVISIBLE HAND
Harus jujur diakui bahwa kesalahan terbesar dari MABES POLRI adalah membiarkan Komisaris Jenderal Gories Mere menguasai sendiri penanganan aksi terorisme sejak bom malam natal tahun 1999 sampai periode penangkapan Abu Dujana selaku Panglima Sayap Militer Al Jamaah Al Islamyah bulan Juni-Juli 2007. Mari kita hitung bersama-sama, sudah berapa lama ketertutupan penanganan aksi terorisme itu hanya dikuasai sepihak oleh segelintir oknum polisi yang patut dapat diduga sangat penuh semangat eksklusif yang kebablasan dan ego sektoral yang menyesatkan.

Jangankan kepada pihak eksternal semacam Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Badan Intelijen Negara (BIN), kelompok eksklusif yang patut dapat diduga menggelorakan ego sektoral menyesatkan tadi, juga sangat tidak koordinatif dan cenderung larut dalam kepongahan mereka terhadap rekan sekerja di lingkungan Mabes POLRI sendiri. Sejak penanganan bom malam Natal 1999, POLRI membentuk Tim Satgas Bom. Tim inilah yang bergerak “under ground” atau dibawah tanah.

Namun atas kebaikan dan memanfaatkan misi “WAR ON TERROR” yang dikumandangkan Presiden AS George Walter Bush, maka dibentuklah Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror POLRI — yang patut dapat diduga memang dibiayai sepenuhnya pembentukan itu oleh AMERIKA SERIKAT –.

Tidak salah dan samasekali tak perlu dicurigai keikut-sertaan AMERIKA SERIKAT dalam mendukung gerak POLRI menangani aksi terorisme lewat pembentukan Densus 88 Anti Teror POLRI.

Dalam kasus hilangnya barang bukti 13 kg sabu-sabu, demikian invisible hand juga kuat berperan dalam permainan double agent yang juga merupakan antek asing.

MELAWAN TEROR PENGUASA
Banyaknya sekali double agent yang bermain di negeri ini sudah seharusnya menjadikan pemerintah waspada. Kedaulatan sebagai negeri muslim terbesar harus dijunjung tinggi untuk benar benar terlepas dari pengaruh barat. Para penguasa negeri ini dilahirkan dari rahim suci para ibunda muslimah yang senantiasa berdzikir kepada Allah Robb Semesta. Sudah selayaknya negeri ini memiliki kekuatan, kemandiriannya sendiri. Ideologi yang suci dan yang akan menghantarkan kesejahteraan haqiqi bagi warga negaranya.

1. Meraih dukungan rakyat terhadap aktifitas dakwah yang memberikan solusi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan haqiqi.
2. Meraih dukungan elit penguasa, elit militer yang memiliki hati nurani dan tidak semata mengejar kekuasaan demi kata absah dari majikan barat dan asing (stick and carrot political views).
3. Istiqomah memperjuangkan solusi dan dakwah yang tepat bersama penguasa meraih dan menegakkan kekuasaan yang berdaulat serta mandiri.

Wallahu a’laam

Sumber

http://multiply.com/gi/dj2islam:journal:690

Panorama Theme by Themocracy