Miyabi Mau Datang, Indonesia Tegang !
Indonesia menurut data yang “diobral” adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar. Lantas patutkah Islam Indonesia berbangga dengan hal itu? Atau perlukah ummat Islam sedunia berbangga dengan adanya ummat Islam terbesar ada di Indonesia? Tunggu duluuuu………..
Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia hanya secara kuantitas, sedangkan dalam hal kualitas “jauh panggang dari api”. Ummat Islam yang menghiasi Indonesia sebanyak 88% populasi hanyalah sekedar pelengkap penderita yang sering dimarginalkan dan dilecehkan.
Secara ekonomi kalah dengan taipan-taipan dan boss-boss luar negeri, sedangkan ummat Islam miskin dan lemah. Secara politik, lebih banyak keputusan-keputusan yang berseberangan dengan tata aturan Islam, bahkan ironisnya Indonesia menjadi negara yang banyak terlibat kasus korupsi dan hingga kini masih dalam jajaran atas dalam “perkorupsian”.
Begitu pula dalam berkebudayaan, generasi muda Islam Indonesiapun lebih banyak terpengaruh budaya rusak yang di-injeksi-kan untuk merusak dan melemahkan Islam dari generasi mudanya. Belum lagi ditambah dengan tuduhan terrorisme dan radikalisme yang membuat sebagian besar ulama merasa terpojokkan bahkan takut dikategorikan bagian dari fundamentalias yang dikatakan sebagai bibit-bibit terrorisme.
Pada akhirnya kini terlihat bahwa ulama sebagai benteng akhlaq dan moralpun seakan dimandulkan sehingga tidak menghasilkan apa-apa dalam menjaga norma dan budaya bangsa. Budaya rusak yang disebarluaskan untuk merusak Islam bertebaran dengan berbagai model dan metode untuk bisa merusak generasi Indonesia. Mereka biasanya menggunakan alasan hak asasi, kebebasan berekspresi, persamaan hak, dan lain sebagainya, dengan tujuan memasukkan budaya dan ide-ide yang merusak.
Berbagai keputusan untuk menjaga norma susila dimentahkan, UUAPP pun sekedar nama, tak berbuah sama sekali. Untuk menghadapi kedatangan si Miyabi saja kelabakan, ramai, lantas sunyi senyap lagi kalah dengan gaung kebebasan berekspresi atau apalah alasannya. Atau mungkin memang demikianlah kualitas ummat Islam Indonesia, diajak sholat ikut, tapi diajak nonton pornografi-pun ayo. Meskipun Miyabi tidak membuat film porno di Indonesia, namun dengan publikasi mereka akhirnya orang-orang yang dulunya tidak mengenal bintang porno itu kini mengenalnya dan berusaha mencari koleksi film panasnya.
Inilah Indonesia, Islam cuma sekedar jumlah saja, tapi kualitas bobrok, hancur, jeblok, gampang dipermainkan, gampang dibodohi, lemah tak berdaya. Ulamanya tidak tegas karena takut dikaitkan dengan terrorisme, takut berseberangan dengan keputusan pemerintah yang dikendalikan oknum-oknum sekuler yang ingin membentuk Islam sesuai dengan keinginan barat agar mudah dikendalikan dan kemudian mudah untuk dihancurkan.
Pemeluk Islam Indonesia yang terlihat adalah sebagai pemeluk secara ritual saja, selebihnya kosong. Tingkah lakunya sudah banyak terpengaruh budaya tanpa agama, bahkan budaya miyabi budaya hewan.
Kini, dengan kasus publikasi Miyabi dan berbagai hal lainnya yang terus merongrong norma susila generasi Indonesia, maka mari kita perbaiki UUAPP agar semakin kuat dan optimal. Seharusnya UUAPP juga berisi peraturan pelarangan terhadap semua oknum perfilman porno untuk berada di Indonesia terutama dalam wilayah publik yang bisa mempengaruhi manusia normal menjadi hewan. Bahkan, seandainya Miyabi tidak jadi datang ke Indonesia lantas filmnya dibuat di Jepang (meskipun yang bukan porno) dan dipublikasikan di Indonesia, itupun seharusnya dilarang peredarannya.
Menjaga norma susila lebih penting daripada rating film dan uang.
Hilang uang masih bisa dicari, hilang norma susila kasihan sekali.
sumber: 2i2h.multiply.com
